Senin, 11 September 2017

Manusia di Tengah Heterogenitas budaya dan agama

BAB II
PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang
Manusia di Tengah Heterogenitas budaya dan agama adalah manusia di tengah keragaman budaya dan agama yang semakin beragam dan pada zaman modern ini budaya pun semakin menghadapi percampuran budaya antar budaya lain dan termodifikasi. Seiring berkembangnya budaya maka agama diperlukan untuk menyeimbanginya agar seimbang antara keyakinan dan tidak saling menjatuhkan. Namun bila tidak di awasi maka akan menjadi bahaya dan bisa jadi pemicu konflik antar masyarakat yang bermacam-macam latar belakangnya tersebut.
1.2.  Rumusan Masalah
1.      Apakah makna manusia, budaya dan agama?
2.      Bagaimana hakikat heterogenitas agama dan budaya?
3.      Apakah apa hubungan agama dan budaya?
1.3.  Tujuan
1.      Untuk mengetahui makna manusia, budaya dan agama?
2.      Untuk mengetahui hakikat heterogenitas agama dan budaya?
3.      Untuk mengetahui apa hubungan agama dan budaya?













BAB III
PEMBAHASAN

A.   Pengertian manusia
Berbicara tentang kebudayaan tidak bisa dilepaskan dari manusia sebagai penciptanya.manusia telah memikirkan asalanya selama bertahun-tahun tetapi sekarang ini, satu-satunya sumbrer gagasan ini adalah pengertian-pengertian yang diperoleh dari ajaran agama dan berbagai sistem filsafat. Baru pada zaman modern sekarang ini, bersama-sama mengalirnya berbagai data, ia mampu mendekat masalah penciptaan manusia dari sudut baru.diantaranya daa teori evolusi darwin.
Teori evolusi darwin dalam bukunya on the origin of species yang terbit di inggris tahun 1959M. Darwin berusaha mengetengahkan sebuah teori mengenai asal – usul species melalui seleksi alam atau bertahannya ras – ras yang beruntung dalam perjuangan untuk mempertahankan penghidupannya. Darwin berusaha menemukan mekanisme, yang melalui mekanisme itu satu species dapat berubah menjadi species lain. Oleh pengikut – pengikut darwin yang paling ekstrem menjadikan darwinisme itu sebagai acuan bahwa manusia sebagai keturunan kera. Atas Darwinisme tersebut P.P. Grasse dalam bukunya L’homme Accussation (manusia sebagai tertuduh), berusaha mencari bukti kebenaran darwinisme, secara kritis melalui penelitian secara teliti dan mengumpulkan pendapat para ahlinya. Dan akhirnya P.P.Gresse menyimpulkan bahwa antara manusia dan kera berbeda.
(drs. H. Rohiman notowidagdo,1997:18)
Manusia adalah salah satu makhluk Tuhan di dunia. Makhluk Tuhan di alam fana ini ada empat macam, yaitu alam, tumbuhan, binatang, dan manusia. Sfat-sifat yang dimiliki keempat makhluk tersebut sebagai berikut :
a.             Alam memiliki sifat wujud
b.            Tumbuhan memiliki sifat wujud dan hidup
c.             Binatang memiliki sifat wujud, hidup, dan dibekali nafsu
d.            Manusia memiliki sifat wujud, hidup, dibekali nafsu, serta akal budi
            Akal budi merupakan pemberian sekaligus potensi dalam diri manusia yang tidak dimiliki makhluk lain. Kelebihan manusia disbanding makhluk lain terletak pada akal budi. Anugerah Tuhan akan akal budi yang  membedakan manusia dari makhluk lain. Akal adalah kemampuan berpikir manusia sebagai kodrat alami yang dimiliki.
            Manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling sempurna karena dibekali akal budi. Semua manusia adalah luhur, karena itu manusia tidak harus dibedakan perlakuannya hanya karena perbedaan suku, ras, keyakinan, status sosial ekonomi, asal usul dan sebagainya.
(Drs. Herimanto, M.Pd, M..Si, & Winarno, S.Pd, M.Si, ilmu sosial & budaya dasar. Solo, Juli 2008.  Hal 18-23)
Berdasarkan hasil penelitian P.P. grasse, ternyata tidak terbukti bahwa manusia keturunan kera menurut darwinisme. Akhirnya Al-Quran lah yang bisa memberika jawaban atas pertanyaan : “Darimana manusia berasal?” .”Bagaimana manusia diciptakan?”. Dalam hal ini al-Quran semenjak 14 abad yang lalu telah tegas menegaskan dengan memberi jawaban bahwa manusia bukanlah keturunan kera, melainkan manusia pertama (Adam) diciptakan oleh Allah dari tanah. Allah mencptaka manusia terdiri dari materi dan roh, melalui tahapan-tahapan, dari turab menjadi tanah, kemudian menjadi lumpur hitam yang diberi bentuk kemudian menjadi tanah kering seperti embikar, dan seteah disempurnakan bentuknya, Allah meniupkan roh(ciptannya-Nya), maka terjadilah adam.
Firman Allah SWT.:
28.  Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, 29. Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (QS al –Hijr,15:28-29).
(Drs. H. Rohiman notowidagdo,1997:19)
Manusia dengan akal budinya  bisa memperbarui dan mengembangkan sesuatu untuk kepentingan hidup. Kepentingan hidup manusia dalah dalam rangka  memenuhi kebutuhan hidup. Abraham Mashlow seorang ahli psikologi, berpendapat bawha kebutuhan manusia dibagi menjadi 5 tingkatan yaitu:
1.      Kebutuhan fisiologis
2.      Kebutuhan rasa aman dan perlindungan
3.      Kebutuhan sosial
4.      Kebutuhan penghargaan
5.      Kebutuhan aktualisasi diri
Dengan akal budi, manusia tidak hanya memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga mampu mempertahankan serta meningkatkan derajatnya sebagai makhluk yang tnggi bila dibanding dengan makhluk lain. Dengan akal budi, manusia  mampu menciptakan kebudayaan. Kebudayaan pada dasarnya adalah hasil dari akal budi manusia dalam interaksinya, baik denga alam atau manusia lain. Manusia adaah makhlukyang berbudaya.  manusia adalah pencipta kebudayaan.
(Drs. Herimanto  Ilmu sosial & budaya dasar, hal:20-21)
Manusia merupakan pencipta kebudayaan karena manusia dianugerahi akal dan budidaya.  Dengan akal dan budidaya itulah manusia menciptakan dan mengembangkan kebudayaan. Terciptanya kebudayaan adalah hasil interaksi manusia dengan segala isi alam  raya ini. Hasil interaksi binatang  dengan alam sekitar tidak membentuk kebudayaan, tetapi hanya menghasilkan pembiasaan saja.. Hal ini dikarenakan binatang tidak dibekali akal budi, tetapi hanya nafsu dan naluri tingkat rendah. Karena manusia adalah pencipta kebudayaan maka manusia adalah makhluk berbudaya. Kebudayaan adalah ekspresi eksistensi manusia  di dunia.
(Drs. Herimanto  Ilmu sosial & budaya dasar, hal:26-27)
Istilah kemanusiaan berasal dari kata manusia mendapat awalan ke- dan akhiran -an sehingga menjadikan kata benda abstrak. Manusia menunjuk kata benda konkret, sedangkan kemanusiaan meripakan kata benda abstrak. Dengan demikian kemanusiaan tidak bisa dipisahkan dari manusia. Manusia adalah homo, sedangkan kemanusiaan disebut dengan human.
B.   Pengertian budaya
Budi berasal dari bahasa sansekerta budh yang artinya akal. Budi menurut kamus lengkap bahasa indonesia adalah bagian dari kata hati yang berupa paduan akal dan perasaan dan yang dapat membedakan baik buruk sesuatu. Budi dapat pula berarti tabiat, perangai, dan akhlak. Sultan ali syahbana mengungkapkan bahwa budilah yang menyebabkan manusia mengembangkan suatu hubungan yang bermakna dengan alam sekitarnya dengan jalan memberikan penilaian objektif terhadap objek dan kejadian.
(Drs. Herimanto,M.Pd., M.si,2014:19)
Dalam kamus besar bahasa indonesia dijelaskan istilah budaya dapat diartikan sebagai: 1) pikiran; akal budi; 2) berbudaya : mempunyai budaya, mempunayai pikiran dan akal budi untuk memajukan diri. Sedangkan istilah kebudayaan diartikan : 1) segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia sebagai hasil pemikiran akal budinya ; 2) peradaban sebagai akal budi manusia; 3) ilmu pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang dimanfaatkan untuk kehidupannya dan memberi manfaat kepadanya(badudu zain,1994:211). Dalam pengertian yang lain dijelaskan bahwa pengertian kebudayaan disamakan dengan istilah cultuur (bahasa belanda), culture (bahasa inggris), berasal dari bhasa latin colere yang berarti mengolah. Bertolak dari arti tersebut, kemudian kata culture berkembang pengertiannya menjadi segala sesuatu daya dan aktifitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam(widhagdo,1991:18)

(Drs. Sujarwa 2010:28)
            Kata kebudayaan berasal dari kata sansekerta, budhayah, ialah bentuk jamak dari kata buddhi yang berati budi atau akal. Demikianlah kebudayaan itu dapat diartikan “hal-hal yang bersangkutan dengan akal”. Ada sarjana yang mengupas kata budaya itu sebagai perkembangan dari kata majemuk budi daya yang berarti daya dari budi. Karena itu daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa dan kebudayaaan itu segala dari cipta , karsa dan rasa itu.
(Drs. H. Rohiman notowidagdo,1997:24 )
Kebudayaan pada hakikatnya dalah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebudayaan merupakan keseluruhan dari hasi budi daya manusia, baik cipta, karsa dan rasa. Kebudayaan berwujud gagasan/ide, perilaku/aktivitas, dan benda-benda.
(Drs. Herimanto, M.Pd, M..Si, Ilmu sosial & budaya dasar,hal:68)
Mengenai kebudayaan, banyak sarjana – sarjana ilmu sosial yang telah mencoba menerangkan atau setidaknya mendefinisikannya. Ada dua sarjana antropolgi yaitu : A.L.Krober  dan C.Kluckhon yang perna mengumpulkan sebanyak mungkin definisi tentang kebudayan yang termaktub dalam banyak buku dan yang berasal dari banyak pengatrang dan sarjana.
Adapun ahli antropologi yyang memberikan definisi tentang kebudayaan antara lain:
1.      E.B. Taylor (Inggris)
Dalam buku yang berjudul : primitive culture, mendefiniskan bahwa : kebudayaan adalah keseluruhan kompleks yang didlamnya terandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemamua orang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagi anggota masyarakat.

2.      R. Linton
Dalam bukunya :the Culture Backgroud Of Persoanilty: bahwa kebudayaan  adalah konfigurasi dari tingkah laku yang dipelajari dan hasil dari tingkah laku, yang unsur-unsur pembentukannya di duking dan diteruskan oleh anggota masyarakat tertentu.

3.      A.L. Krober dan C.Kluckhon
Kebudayaan adalah keseluruhan hasil pembuatan manusia yang bersumber dari kemauan, pemikiran dan perasaannya.
Karena jangkauannya begitu luas, maka Ernest Cassire membaginya ke dalam lima aspek yang ,meliputi:
a.       Kehidupan spiritual
b.      Bahasa kesusastetraan
c.       Kesenian
d.      Sejarah
e.       Ilmu pengetahuan
Studi tentang kebudayaan berarti studi dari tingkah laku manusia. Tingkah laku manusia dalam cahaya studi budaya dapat dilukiskan sebagai kerja, karya dan bicara. Tiga aktivitas disebut digerakkan dasar, karena sesuai dengan tiga syarat yang mengausai eksistensi manusia di duniaa ini.
4.      S.T. Alishabana
Kebudayaan adalah manifestasi dari suatu bangsa.
5.      DR. M. Hatta
Kebudayaan adalah  ciptaan hidup dari suatu bangsa.
6.      Dausson
Dalm buku age of the gods: kebudayaan adalah cara hidup bersama (the culture is common way of lfe)

7.      J.P.H. Duyvendak
Kebudayaan adalah kumpulan dari cetusan jiwa manusia yang beraneka ragam, berlaku dalam suatu masyarakat tertentu.

8.      Prof. DR. Koenjaraningrat
Kebudayaan adalah keseluruha manusia dar kelakuan dan hasil kelakuan yang teratur oleh tata kelakuan yang harus didapatnya dengan belajar dan yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.

9.      Prof. M.M. Djojodigoeno
Dalam bukunya : asas – asas sosiologi (1958), menyatakan bahwa kebudayaan atau budaya adalah daya dari budi, yang berupa cpta, karsa dan rasa.

      Dari berbagai definisi di atas dapat diambil intisarinya bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil cipta, karsa dan rasa manusia untuk memenuh kebutuhan hidupnya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.
(Drs. H. Rohiman notowidagdo,1997:25-26 )

Wujud dari kebudayaan menurut JJ. Honigman dapat dibedakan berdasarkan gejalanya, yaitu ideas, activities, dan artifact. Ideas adalah ide atau gagasan; actvities adalah kebudayaan ayang diwujudkan dalam bentuk aktivitas; artifac adalah hasil kebudayaanyang berupa benda-benda. Hal ini tak jauh berbeda dengan yang disampaikan dengan Kontjoroningrat bahwa wujud kebudayaan ada 3 macam
1.      Wujud kebudayaan adalah sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan-gagasan nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.
2.      Wujud kebudayaan adalah sebagai suatu kompleks dari aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3.      Wujud kebudayaan adalah sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Lebih lanjut DR. Koenjaraningrat menjelaskan bahwa semua bentuk kebudayaan yang ada didunia ini memiliki kesamaan yang bersifat universal. Ia juga menyebukan ada tujuh unsur-unsur kebudayaan yang bersifat universal, yaitu:

1.      sistem religi dan upacara keagamaan
2.      sistem organisasi kemasyarakatan
3.      sistem pengetahuan
4.      bahasa
5.      kesenian
6.      sistem mata pencaharian hidup
7.      sistem teknologi dan peralalatan

(Drs. Sujarwa 2010:32-33)


C.     Pengertian agama
Agama dalam encyclopedia of philosophy:
“agama adalah kepercayaan pada tuhan yang selau hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan memiliki hubungan moral dengan umat manusia”.
(Rakhmat, jalaluddin,2004:50)
Suatu agama adalah sisem simbol –simbol yang berlaku untuk menetapkan suasan hati dan motivasi – motivasi yang kuat, yang meresapi, dan yang tahan lama dalam diri manusia dengan merumuskan konsep – konsep mengenai suatu atanan umum ekstensi dan membungkus konsep –konsep ini dengan semacam pancaran faktualitas, sehingga suasana hati dan motivasi itu tampak khas realistis.
(Dr. Budi Santoso, 1992:5)
Manusia yang percaya pada tuhan, tuhan adalah kekuasaan tertinggi. Manusia adalah makhluk ciptaan tuhan yang maha esa. Karena itu manusia menagbdi pada ajaran-ajaran tuhan yaitu agama. Ajaran agama ada dua macam.
a.       Ajaran agama yang dogmatis, yang disampaikan tuahan melalui nabi-nabi. Ajaran agama yang dogmatis bersifat mutlak  (absolut), terdapat pada kitab suci Al-Quran dan hadis. Sifatanya tetap, tidak berubah ubah.
b.      Ajaran agama dari pemuka-pemuka agama, yaitu sebagai hasil pemkiran manusia, sifatnya relatif (terbatas). Ajaran agama dari pemuka – pemuka agama termasuk dalam kebudayaan, terdapat dalam buku – buku agamayang ditulis oleh pemuka – pemuka agama. Sifatnya dapat berubah – ubah sesuai dengan perkembangan agama.
(Drs. H. Rohiman notowidagdo,1997:158-159 )
Setiap usaha untuk berbicara tanpa mengucapkan satu bahasa khusus tidak lebh sia-sia daripada usaha untuk memiliki sebuah agama yang bukan agama khusus. Demikialah setiap agama hidup dan sehat memiliki suatu keistimewaan yang jelas, kekuatannya terdapat dalam pesannya yang khusus dan pesannya mengherankan serta dalam prasangka yang diberikan wahyu dalam kehidupan. Pemandangan –pemandangan yang ia buka dan misteri  - misteri  yang dikemukakaknnya adalah dunia lain yang didiami, dan dunia lain untuk didiami entah kits berhsrsp pernah sama sekali melewatinya atau tidak adalah apa yang kita maksudkan dengan memliki sebuah agama.
   (Dr. Budi Santoso, 1992:1)
D.     Heterogenitas(keragaman)
Kata Heterogenitas atau keragaman dapat diartikan kebermacaman atau bermacam – macam. (badudu, 1994:1118). Dalam kaitannya dengan pembahasan ini kata keragaman dapat diartika sebagai hal yang bermacam –macam. Keragaman dalah suatu keadaan masyarakat yang didalamnya terdapat perbedaan – perbedaan dalam berbagai hal. Sebagaimana yng telah kita ketahui dan sadari bersama bahwa bangsa indonesia meruakan bangsa majemuk , yang ditandai dengan beragam suku bangsa , agama dan kebudayaan. Keragaman itu merupakan kekayaan budaya bangsa yang meembanggakan , tetapi pada sisis lain juga mengandung potensi masalah yang dapat timbul malapetaka jika tidak dikelola dengan baik.
(Drs. Sujarwa 2010:243)
Keragaman berasal dari kata ragam. Berdasarkan kamus besar bahasa indonesia (KKBI), ragam berarti (1) sikap, tingkah laku, cara; (2) macam, jenis ; (3) musik,lagu, langgam; (4) warna, corak; (5) laras(tata bahasa). Merujuk pada arti nomor dua diatas, ragam berarti jenis, macam. Keragaman menunjukkan adanya banyak macam, banyak jenis.
(Drs. Hermianto,2008:97)
Unsur – unsur keragaman yang merupakan sumber kekayaan sekaligus menjadi sumber kerawanan timbulnya konflik tersebut dapat digolongkan menjadi dua yaitu, yang lingkupnya nersifat umum (misalnya suku bangsa dan ras agama dan keyaknan, ideologi dan politik, adat dan kesopanan , kesenjangan ekonomi dan kesenjangan sosial) dan yang bersifat pribadi (misalnya :perilaku seseorang, dan lain sebagainya). Unsur keragaman tersebut berpengaruh terhadap kehidupan manusia karena masing-masing berdampak langsung bagi terpeliharanya kesederajatan dan kemartabatan manusia.
(Drs. Sujarwa 2010:244)

Keragaman manusia dimaksudkan bahwa setiap manusia memiliki perbedaan. Perbedaan itu ada karena manusia adalah makhluk individu yang setiap individu memiliki ciri-ciri khas tersendiri. Selain makhluk individu, manusia juga makhluk sosial yang membentuk kelompok persekutuan hidup. Tiap kelompok persekutuan hidup manusia juga beragam. Masyarakat sebagai persekutuan hidup itu berbeda dan beragam karena ada perbedaan misalnya, dalam hal ras, suku, agama, budaya, ekonomi, status sosial, jenis kelamin dan  lain sebagainya. Hal-hal demikian kita katakan sebagai unsur-unsur yang membentuk keragaman dalam masyarakat.
(Drs. Hermianto,2008:97)

Untuk mewujudkan kesederajatan,kemartabatan, dan keragaman maka ada empat faktor utama yang yang turut memegang peranan penting, yaitu : peran lembaga legislatif, yudikatif, eksekutif, dan rakyat pada umumnya. Dalam kehidupan bernegara da bermasyarakat yang berada dalam konteks keragaman perlu menyadari adanya kesamaan derajat maupun kesamaan martabat bagi semua warga negara yang tinggal bersama dalam satu wadah. Kesamaaan derajat dan kemartabatan ini perllu dijamin dalam undang – undang kenegaraan sebagaimana yang termaktub dalam UUD 1945 tentang hak dan kewajiban setiap warga negara adalah sama.
(Drs. Sujarwa 2010:249)







BAB IV
PENUTUP
KESIMPULAN
Kenapa Allah SWT. menciptakan manusia dalam variasi budaya dan agama yang berbeda supaya manusia berpikir untuk mencari solusi bagaimana menyatukan yang berbeda tersebut dan memehami perbedaan. Heterogenitas budaya dan agama itu ada supaya kita melihat perbedaan itu sebagai sesuatu yang indah. Menurut prespektif sosiolgis solusi yang ditawarkan ada 3 dalam heterogenirtas budaya dan agama yaitu(1) Pluralitas : Budaya atau agama yang dianut adalah agama yang paling benar yang lain salah. (2) Singularisme : Meyakini kebenaran hanya yang diyakini saja satu budaya dan satu agama saja. (3) Pluralisme: suatu kelompok yang meyakini semua agama atau budaya itu benar tidak hanya melihat satu agama atau satu budaya saja (merspon semua varian budaya dan agama).
SARAN
Cara pandang heterogenitas budaya dan agama memiliki fungsi masing-masing: (1) Pluralisme: hanya bisa untuk meihat prespektif heterogenitas budaya saja tidak bisa untuk agama. (2) pluralitas : bisa untuk meihat prespektif heterogenitas agama bukan berarti pndah – pindah agama atau budaya tetapi tetap toleran. (3) singularisme: diperlukan untuk meihat prespektif heterogenitas agama tetapi tidak perlu terlalu fanatik.











DAFTAR PUSTAKA

Sujarwa. 2011. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar.Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Susanto, Budi. 1992. Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta:Penerbit Kanisus.
Winarno, Herimanto. 2014. Sosial & Budaya Dasar. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Notowidagdo, Rohiaman. 1997. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar Berdasarkan Al-Quran dan Hadits. Jakarta:PT RajaGrafindo.























LAMPIRAN

Pertanyaan
1.      Damar Adyun Muhammad (16650043)
Jika dalam satu kelompok ada 2 kelompok singularisme atau pluralisme tetapi dalam praktiknya muncul singularisme bagaimana solusinya dalam masalah tersebut?
Jawab:
Solusinya adalah tetap menghargai antar kelompok tersebut dan tetap konsisten.

2.      Ahmad Riza (16650053)
Pemateri pertama menjelaskan Human languange dalam sejarah memiliki tanda, kode, bahsa lisan dan tulisan sedangkan peateri kedua menjelaskan bahwa nabi adam (manusia pertama) di tanya langsung bisa menjawab?
Jawab:
karena sumber dari bukunya berbeda sehingga pendapat dan penjelasan juga berbeda antara penjelasan pemteri yang satu dan pemateri dua.

3.      Andriani Arisa Safitri (16650039)
Bila ada pemerataan heterogenitas bagaimana upaya untuk meminimalisir pemerataan heterogenitas tersebut?
Jawab:
Untuk meminimalisir pemerataan heterogentias kita harus bisa menenukan cara pandang kita sesuai dengan fungsinya misalnya pluralitas dan singularitas hanya bisa digunakan untuk melihat dengan cara pandang agama dan pluralisme hanya bisa digunakan untuk melihat dalam prespektif budaya dan tidak bisa untuk agama. 


Tidak ada komentar: