BAB II
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Manusia di Tengah Heterogenitas budaya dan agama adalah manusia di
tengah keragaman budaya dan agama yang semakin beragam dan pada zaman modern
ini budaya pun semakin menghadapi percampuran budaya antar budaya lain dan termodifikasi.
Seiring berkembangnya budaya maka agama diperlukan untuk menyeimbanginya agar
seimbang antara keyakinan dan tidak saling menjatuhkan. Namun bila tidak di
awasi maka akan menjadi bahaya dan bisa jadi pemicu konflik antar masyarakat
yang bermacam-macam latar belakangnya tersebut.
1.2. Rumusan
Masalah
1. Apakah makna manusia, budaya dan agama?
2. Bagaimana hakikat heterogenitas agama dan
budaya?
3. Apakah apa hubungan agama dan budaya?
1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui makna manusia, budaya dan
agama?
2. Untuk mengetahui hakikat heterogenitas
agama dan budaya?
3. Untuk mengetahui apa hubungan agama dan
budaya?
BAB III
PEMBAHASAN
A.
Pengertian manusia
Berbicara tentang kebudayaan tidak bisa dilepaskan dari manusia
sebagai penciptanya.manusia telah memikirkan asalanya selama bertahun-tahun
tetapi sekarang ini, satu-satunya sumbrer gagasan ini adalah
pengertian-pengertian yang diperoleh dari ajaran agama dan berbagai sistem
filsafat. Baru pada zaman modern sekarang ini, bersama-sama mengalirnya
berbagai data, ia mampu mendekat masalah penciptaan manusia dari sudut
baru.diantaranya daa teori evolusi darwin.
Teori evolusi darwin dalam bukunya on the origin of species
yang terbit di inggris tahun 1959M. Darwin berusaha mengetengahkan sebuah teori
mengenai asal – usul species melalui seleksi alam atau bertahannya ras – ras
yang beruntung dalam perjuangan untuk mempertahankan penghidupannya. Darwin
berusaha menemukan mekanisme, yang melalui mekanisme itu satu species dapat
berubah menjadi species lain. Oleh pengikut – pengikut darwin yang paling
ekstrem menjadikan darwinisme itu sebagai acuan bahwa manusia sebagai keturunan
kera. Atas Darwinisme tersebut P.P. Grasse dalam bukunya L’homme Accussation
(manusia sebagai tertuduh), berusaha mencari bukti kebenaran darwinisme, secara
kritis melalui penelitian secara teliti dan mengumpulkan pendapat para ahlinya.
Dan akhirnya P.P.Gresse menyimpulkan bahwa antara manusia dan kera berbeda.
(drs. H. Rohiman notowidagdo,1997:18)
Manusia
adalah salah satu makhluk Tuhan di dunia. Makhluk Tuhan di alam fana ini ada
empat macam, yaitu alam, tumbuhan, binatang, dan manusia. Sfat-sifat yang
dimiliki keempat makhluk tersebut sebagai berikut :
a. Alam
memiliki sifat wujud
b. Tumbuhan
memiliki sifat wujud dan hidup
c. Binatang
memiliki sifat wujud, hidup, dan dibekali nafsu
d. Manusia
memiliki sifat wujud, hidup, dibekali nafsu, serta akal budi
Akal budi merupakan pemberian
sekaligus potensi dalam diri manusia yang tidak dimiliki makhluk lain.
Kelebihan manusia disbanding makhluk lain terletak pada akal budi. Anugerah
Tuhan akan akal budi yang membedakan
manusia dari makhluk lain. Akal adalah kemampuan berpikir manusia sebagai
kodrat alami yang dimiliki.
Manusia merupakan makhluk Tuhan yang
paling sempurna karena dibekali akal budi. Semua manusia adalah luhur, karena
itu manusia tidak harus dibedakan perlakuannya hanya karena perbedaan suku,
ras, keyakinan, status sosial ekonomi, asal usul dan sebagainya.
(Drs.
Herimanto, M.Pd, M..Si, & Winarno, S.Pd, M.Si, ilmu sosial & budaya
dasar. Solo, Juli 2008. Hal 18-23)
Berdasarkan hasil penelitian P.P.
grasse, ternyata tidak terbukti bahwa manusia keturunan kera menurut
darwinisme. Akhirnya Al-Quran lah yang bisa memberika jawaban atas pertanyaan :
“Darimana manusia berasal?” .”Bagaimana manusia diciptakan?”. Dalam hal ini
al-Quran semenjak 14 abad yang lalu telah tegas menegaskan dengan memberi
jawaban bahwa manusia bukanlah keturunan kera, melainkan manusia pertama (Adam)
diciptakan oleh Allah dari tanah. Allah mencptaka manusia terdiri dari materi dan
roh, melalui tahapan-tahapan, dari turab menjadi tanah, kemudian menjadi lumpur
hitam yang diberi bentuk kemudian menjadi tanah kering seperti embikar, dan
seteah disempurnakan bentuknya, Allah meniupkan roh(ciptannya-Nya), maka
terjadilah adam.
Firman Allah SWT.:
28. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman
kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari
tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, 29. Maka
apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya
ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (QS al
–Hijr,15:28-29).
(Drs. H. Rohiman notowidagdo,1997:19)
Manusia dengan akal budinya
bisa memperbarui dan mengembangkan sesuatu untuk kepentingan hidup.
Kepentingan hidup manusia dalah dalam rangka
memenuhi kebutuhan hidup. Abraham Mashlow seorang ahli psikologi,
berpendapat bawha kebutuhan manusia dibagi menjadi 5 tingkatan yaitu:
1.
Kebutuhan fisiologis
2.
Kebutuhan rasa aman dan perlindungan
3.
Kebutuhan sosial
4.
Kebutuhan penghargaan
5.
Kebutuhan aktualisasi diri
Dengan akal budi, manusia tidak hanya memenuhi kebutuhan hidup,
tetapi juga mampu mempertahankan serta meningkatkan derajatnya sebagai makhluk
yang tnggi bila dibanding dengan makhluk lain. Dengan akal budi, manusia mampu menciptakan kebudayaan. Kebudayaan pada
dasarnya adalah hasil dari akal budi manusia dalam interaksinya, baik denga
alam atau manusia lain. Manusia adaah makhlukyang berbudaya. manusia adalah pencipta kebudayaan.
(Drs.
Herimanto Ilmu sosial & budaya
dasar, hal:20-21)
Manusia merupakan
pencipta kebudayaan karena manusia dianugerahi akal dan budidaya. Dengan akal dan budidaya itulah manusia
menciptakan dan mengembangkan kebudayaan. Terciptanya kebudayaan adalah hasil
interaksi manusia dengan segala isi alam
raya ini. Hasil interaksi binatang
dengan alam sekitar tidak membentuk kebudayaan, tetapi hanya
menghasilkan pembiasaan saja.. Hal ini dikarenakan binatang tidak dibekali akal
budi, tetapi hanya nafsu dan naluri tingkat rendah. Karena manusia adalah
pencipta kebudayaan maka manusia adalah makhluk berbudaya. Kebudayaan adalah
ekspresi eksistensi manusia di dunia.
(Drs.
Herimanto Ilmu sosial & budaya
dasar, hal:26-27)
Istilah
kemanusiaan berasal dari kata manusia mendapat awalan ke- dan akhiran -an
sehingga menjadikan kata benda abstrak. Manusia menunjuk kata benda konkret,
sedangkan kemanusiaan meripakan kata benda abstrak. Dengan demikian kemanusiaan
tidak bisa dipisahkan dari manusia. Manusia adalah homo, sedangkan kemanusiaan
disebut dengan human.
B.
Pengertian budaya
Budi berasal dari bahasa sansekerta budh yang artinya akal.
Budi menurut kamus lengkap bahasa indonesia adalah bagian dari kata hati yang
berupa paduan akal dan perasaan dan yang dapat membedakan baik buruk sesuatu.
Budi dapat pula berarti tabiat, perangai, dan akhlak. Sultan ali syahbana mengungkapkan
bahwa budilah yang menyebabkan manusia mengembangkan suatu hubungan yang
bermakna dengan alam sekitarnya dengan jalan memberikan penilaian objektif
terhadap objek dan kejadian.
(Drs. Herimanto,M.Pd., M.si,2014:19)
Dalam kamus besar bahasa indonesia dijelaskan istilah budaya dapat
diartikan sebagai: 1) pikiran; akal budi; 2) berbudaya : mempunyai budaya,
mempunayai pikiran dan akal budi untuk memajukan diri. Sedangkan istilah
kebudayaan diartikan : 1) segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia sebagai
hasil pemikiran akal budinya ; 2) peradaban sebagai akal budi manusia; 3) ilmu
pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang dimanfaatkan untuk kehidupannya
dan memberi manfaat kepadanya(badudu zain,1994:211). Dalam pengertian yang lain
dijelaskan bahwa pengertian kebudayaan disamakan dengan istilah cultuur (bahasa
belanda), culture (bahasa inggris), berasal dari bhasa latin colere yang
berarti mengolah. Bertolak dari arti tersebut, kemudian kata culture berkembang
pengertiannya menjadi segala sesuatu daya dan aktifitas manusia untuk mengolah
dan mengubah alam(widhagdo,1991:18)
(Drs. Sujarwa 2010:28)
Kata kebudayaan berasal dari kata
sansekerta, budhayah, ialah bentuk jamak dari kata buddhi yang berati budi atau
akal. Demikianlah kebudayaan itu dapat diartikan “hal-hal yang bersangkutan
dengan akal”. Ada sarjana yang mengupas kata budaya itu sebagai perkembangan
dari kata majemuk budi daya yang berarti daya dari budi. Karena itu daya dari
budi yang berupa cipta, karsa dan rasa dan kebudayaaan itu segala dari cipta ,
karsa dan rasa itu.
(Drs. H. Rohiman notowidagdo,1997:24 )
Kebudayaan
pada hakikatnya dalah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya. Kebudayaan merupakan keseluruhan dari hasi budi daya
manusia, baik cipta, karsa dan rasa. Kebudayaan berwujud gagasan/ide,
perilaku/aktivitas, dan benda-benda.
(Drs.
Herimanto, M.Pd, M..Si, Ilmu sosial & budaya dasar,hal:68)
Mengenai
kebudayaan, banyak sarjana – sarjana ilmu sosial yang telah mencoba menerangkan
atau setidaknya mendefinisikannya. Ada dua sarjana antropolgi yaitu :
A.L.Krober dan C.Kluckhon yang perna
mengumpulkan sebanyak mungkin definisi tentang kebudayan yang termaktub dalam
banyak buku dan yang berasal dari banyak pengatrang dan sarjana.
Adapun
ahli antropologi yyang memberikan definisi tentang kebudayaan antara lain:
1. E.B. Taylor (Inggris)
Dalam buku yang berjudul : primitive
culture, mendefiniskan bahwa : kebudayaan adalah keseluruhan kompleks yang
didlamnya terandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat
istiadat, dan kemamua orang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia
sebagi anggota masyarakat.
2. R. Linton
Dalam bukunya :the Culture Backgroud Of
Persoanilty: bahwa kebudayaan adalah
konfigurasi dari tingkah laku yang dipelajari dan hasil dari tingkah laku, yang
unsur-unsur pembentukannya di duking dan diteruskan oleh anggota masyarakat
tertentu.
3. A.L. Krober dan C.Kluckhon
Kebudayaan adalah keseluruhan hasil
pembuatan manusia yang bersumber dari kemauan, pemikiran dan perasaannya.
Karena
jangkauannya begitu luas, maka Ernest Cassire membaginya ke dalam lima aspek
yang ,meliputi:
a. Kehidupan spiritual
b. Bahasa kesusastetraan
c. Kesenian
d. Sejarah
e. Ilmu pengetahuan
Studi
tentang kebudayaan berarti studi dari tingkah laku manusia. Tingkah laku
manusia dalam cahaya studi budaya dapat dilukiskan sebagai kerja, karya dan
bicara. Tiga aktivitas disebut digerakkan dasar, karena sesuai dengan tiga
syarat yang mengausai eksistensi manusia di duniaa ini.
4. S.T. Alishabana
Kebudayaan
adalah manifestasi dari suatu bangsa.
5. DR. M. Hatta
Kebudayaan
adalah ciptaan hidup dari suatu bangsa.
6. Dausson
Dalm buku age of the gods:
kebudayaan adalah cara hidup bersama (the culture is common way of lfe)
7. J.P.H. Duyvendak
Kebudayaan adalah
kumpulan dari cetusan jiwa manusia yang beraneka ragam, berlaku dalam suatu
masyarakat tertentu.
8. Prof. DR. Koenjaraningrat
Kebudayaan adalah
keseluruha manusia dar kelakuan dan hasil kelakuan yang teratur oleh tata
kelakuan yang harus didapatnya dengan belajar dan yang semuanya tersusun dalam
kehidupan masyarakat.
9. Prof. M.M. Djojodigoeno
Dalam bukunya : asas –
asas sosiologi (1958), menyatakan bahwa kebudayaan atau budaya adalah daya dari
budi, yang berupa cpta, karsa dan rasa.
Dari berbagai definisi di atas dapat diambil intisarinya bahwa
kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil cipta, karsa
dan rasa manusia untuk memenuh kebutuhan hidupnya dengan cara belajar, yang
semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.
(Drs. H. Rohiman notowidagdo,1997:25-26 )
Wujud dari kebudayaan menurut JJ. Honigman dapat dibedakan
berdasarkan gejalanya, yaitu ideas, activities, dan artifact. Ideas
adalah ide atau gagasan; actvities adalah kebudayaan ayang diwujudkan dalam
bentuk aktivitas; artifac adalah hasil kebudayaanyang berupa benda-benda. Hal
ini tak jauh berbeda dengan yang disampaikan dengan Kontjoroningrat bahwa wujud
kebudayaan ada 3 macam
1.
Wujud kebudayaan adalah sebagai
suatu kompleks dari ide-ide, gagasan-gagasan nilai, norma-norma, peraturan dan
sebagainya.
2.
Wujud kebudayaan adalah sebagai
suatu kompleks dari aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam
masyarakat.
3.
Wujud kebudayaan adalah sebagai
benda-benda hasil karya manusia.
Lebih lanjut DR. Koenjaraningrat
menjelaskan bahwa semua bentuk kebudayaan yang ada didunia ini memiliki
kesamaan yang bersifat universal. Ia juga menyebukan ada tujuh unsur-unsur
kebudayaan yang bersifat universal, yaitu:
1.
sistem religi dan
upacara keagamaan
2.
sistem organisasi kemasyarakatan
3.
sistem pengetahuan
4.
bahasa
5.
kesenian
6.
sistem mata pencaharian hidup
7.
sistem teknologi dan peralalatan
(Drs. Sujarwa 2010:32-33)
C.
Pengertian
agama
Agama dalam encyclopedia of philosophy:
“agama
adalah kepercayaan pada tuhan yang selau hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak
ilahi yang mengatur alam semesta dan memiliki hubungan moral dengan umat
manusia”.
(Rakhmat, jalaluddin,2004:50)
Suatu agama adalah sisem simbol –simbol yang berlaku untuk
menetapkan suasan hati dan motivasi – motivasi yang kuat, yang meresapi, dan
yang tahan lama dalam diri manusia dengan merumuskan konsep – konsep mengenai
suatu atanan umum ekstensi dan membungkus konsep –konsep ini dengan semacam
pancaran faktualitas, sehingga suasana hati dan motivasi itu tampak khas
realistis.
(Dr. Budi Santoso, 1992:5)
Manusia yang percaya pada tuhan, tuhan adalah kekuasaan tertinggi.
Manusia adalah makhluk ciptaan tuhan yang maha esa. Karena itu manusia menagbdi
pada ajaran-ajaran tuhan yaitu agama. Ajaran agama ada dua macam.
a.
Ajaran agama yang dogmatis, yang
disampaikan tuahan melalui nabi-nabi. Ajaran agama yang dogmatis bersifat
mutlak (absolut), terdapat pada kitab
suci Al-Quran dan hadis. Sifatanya tetap, tidak berubah ubah.
b.
Ajaran agama dari pemuka-pemuka
agama, yaitu sebagai hasil pemkiran manusia, sifatnya relatif (terbatas).
Ajaran agama dari pemuka – pemuka agama termasuk dalam kebudayaan, terdapat
dalam buku – buku agamayang ditulis oleh pemuka – pemuka agama. Sifatnya dapat
berubah – ubah sesuai dengan perkembangan agama.
(Drs. H.
Rohiman notowidagdo,1997:158-159 )
Setiap
usaha untuk berbicara tanpa mengucapkan satu bahasa khusus tidak lebh sia-sia
daripada usaha untuk memiliki sebuah agama yang bukan agama khusus. Demikialah
setiap agama hidup dan sehat memiliki suatu keistimewaan yang jelas,
kekuatannya terdapat dalam pesannya yang khusus dan pesannya mengherankan serta
dalam prasangka yang diberikan wahyu dalam kehidupan. Pemandangan –pemandangan
yang ia buka dan misteri - misteri yang dikemukakaknnya adalah dunia lain yang
didiami, dan dunia lain untuk didiami entah kits berhsrsp pernah sama sekali
melewatinya atau tidak adalah apa yang kita maksudkan dengan memliki sebuah
agama.
(Dr. Budi Santoso, 1992:1)
D.
Heterogenitas(keragaman)
Kata Heterogenitas atau keragaman dapat diartikan kebermacaman atau
bermacam – macam. (badudu, 1994:1118). Dalam kaitannya dengan pembahasan ini
kata keragaman dapat diartika sebagai hal yang bermacam –macam. Keragaman dalah
suatu keadaan masyarakat yang didalamnya terdapat perbedaan – perbedaan dalam
berbagai hal. Sebagaimana yng telah kita ketahui dan sadari bersama bahwa
bangsa indonesia meruakan bangsa majemuk , yang ditandai dengan beragam suku
bangsa , agama dan kebudayaan. Keragaman itu merupakan kekayaan budaya bangsa
yang meembanggakan , tetapi pada sisis lain juga mengandung potensi masalah
yang dapat timbul malapetaka jika tidak dikelola dengan baik.
(Drs. Sujarwa 2010:243)
Keragaman berasal dari kata ragam. Berdasarkan kamus besar bahasa
indonesia (KKBI), ragam berarti (1) sikap, tingkah laku, cara; (2) macam, jenis
; (3) musik,lagu, langgam; (4) warna, corak; (5) laras(tata bahasa). Merujuk
pada arti nomor dua diatas, ragam berarti jenis, macam. Keragaman menunjukkan
adanya banyak macam, banyak jenis.
(Drs. Hermianto,2008:97)
Unsur – unsur keragaman yang merupakan sumber kekayaan sekaligus
menjadi sumber kerawanan timbulnya konflik tersebut dapat digolongkan menjadi
dua yaitu, yang lingkupnya nersifat umum (misalnya suku bangsa dan ras agama
dan keyaknan, ideologi dan politik, adat dan kesopanan , kesenjangan ekonomi
dan kesenjangan sosial) dan yang bersifat pribadi (misalnya :perilaku
seseorang, dan lain sebagainya). Unsur keragaman tersebut berpengaruh terhadap
kehidupan manusia karena masing-masing berdampak langsung bagi terpeliharanya
kesederajatan dan kemartabatan manusia.
(Drs. Sujarwa 2010:244)
Keragaman manusia dimaksudkan bahwa setiap manusia memiliki
perbedaan. Perbedaan itu ada karena manusia adalah makhluk individu yang setiap
individu memiliki ciri-ciri khas tersendiri. Selain makhluk individu, manusia
juga makhluk sosial yang membentuk kelompok persekutuan hidup. Tiap kelompok
persekutuan hidup manusia juga beragam. Masyarakat sebagai persekutuan hidup
itu berbeda dan beragam karena ada perbedaan misalnya, dalam hal ras, suku,
agama, budaya, ekonomi, status sosial, jenis kelamin dan lain sebagainya. Hal-hal demikian kita
katakan sebagai unsur-unsur yang membentuk keragaman dalam masyarakat.
(Drs. Hermianto,2008:97)
Untuk mewujudkan kesederajatan,kemartabatan, dan keragaman maka ada
empat faktor utama yang yang turut memegang peranan penting, yaitu : peran
lembaga legislatif, yudikatif, eksekutif, dan rakyat pada umumnya. Dalam
kehidupan bernegara da bermasyarakat yang berada dalam konteks keragaman perlu
menyadari adanya kesamaan derajat maupun kesamaan martabat bagi semua warga
negara yang tinggal bersama dalam satu wadah. Kesamaaan derajat dan
kemartabatan ini perllu dijamin dalam undang – undang kenegaraan sebagaimana
yang termaktub dalam UUD 1945 tentang hak dan kewajiban setiap warga negara
adalah sama.
(Drs. Sujarwa 2010:249)
BAB IV
PENUTUP
KESIMPULAN
Kenapa Allah
SWT. menciptakan manusia dalam variasi budaya dan agama yang berbeda supaya
manusia berpikir untuk mencari solusi bagaimana menyatukan yang berbeda
tersebut dan memehami perbedaan. Heterogenitas budaya dan agama itu ada supaya
kita melihat perbedaan itu sebagai sesuatu yang indah. Menurut prespektif
sosiolgis solusi yang ditawarkan ada 3 dalam heterogenirtas budaya dan agama
yaitu(1) Pluralitas : Budaya atau agama yang dianut adalah agama yang paling
benar yang lain salah. (2) Singularisme : Meyakini kebenaran hanya yang
diyakini saja satu budaya dan satu agama saja. (3) Pluralisme: suatu kelompok
yang meyakini semua agama atau budaya itu benar tidak hanya melihat satu agama
atau satu budaya saja (merspon semua varian budaya dan agama).
SARAN
Cara pandang heterogenitas budaya
dan agama memiliki fungsi masing-masing: (1) Pluralisme: hanya bisa untuk
meihat prespektif heterogenitas budaya saja tidak bisa untuk agama. (2)
pluralitas : bisa untuk meihat prespektif heterogenitas agama bukan berarti
pndah – pindah agama atau budaya tetapi tetap toleran. (3) singularisme:
diperlukan untuk meihat prespektif heterogenitas agama tetapi tidak perlu
terlalu fanatik.
DAFTAR PUSTAKA
Sujarwa. 2011. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar.Yogyakarta:Pustaka
Pelajar.
Susanto, Budi. 1992. Kebudayaan dan Agama.
Yogyakarta:Penerbit Kanisus.
Winarno, Herimanto. 2014. Sosial & Budaya Dasar. Jakarta:
PT Bumi Aksara.
Notowidagdo, Rohiaman. 1997. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar
Berdasarkan Al-Quran dan Hadits. Jakarta:PT RajaGrafindo.
LAMPIRAN
Pertanyaan
1.
Damar
Adyun Muhammad (16650043)
Jika dalam satu kelompok ada 2
kelompok singularisme atau pluralisme tetapi dalam praktiknya muncul
singularisme bagaimana solusinya dalam masalah tersebut?
Jawab:
Solusinya adalah tetap menghargai
antar kelompok tersebut dan tetap konsisten.
2.
Ahmad
Riza (16650053)
Pemateri pertama menjelaskan Human languange dalam sejarah memiliki
tanda, kode, bahsa lisan dan tulisan sedangkan peateri kedua menjelaskan bahwa
nabi adam (manusia pertama) di tanya langsung bisa menjawab?
Jawab:
karena sumber dari bukunya berbeda sehingga pendapat dan penjelasan
juga berbeda antara penjelasan pemteri yang satu dan pemateri dua.
3.
Andriani
Arisa Safitri (16650039)
Bila ada pemerataan heterogenitas bagaimana upaya untuk
meminimalisir pemerataan heterogenitas tersebut?
Jawab:
Untuk meminimalisir pemerataan heterogentias kita harus bisa
menenukan cara pandang kita sesuai dengan fungsinya misalnya pluralitas dan
singularitas hanya bisa digunakan untuk melihat dengan cara pandang agama dan
pluralisme hanya bisa digunakan untuk melihat dalam prespektif budaya dan tidak
bisa untuk agama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar