BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tarekat
merupakan bagian dari ilmu tasawuf. Namun tak semua orang yang mempelajari
tasawuf terlebih lagi belum mengenal tasawuf akan faham sepenuhnya tentang
tarekat. Banyak orang yang memandang tarekat secara sekilas akan menganggapnya
sebagai ajaran yang diadakan di luar Islam (bid’ah), padahal tarekat itu
sendiri merupakan pelaksanaan dari peraturan-peraturan syari’at Islam yang sah.
Namun tidak sedikit tarekat-tarekat yang dikembangkan dan dicampuradukkan
dengan ajaran-ajaran yang menyeleweng dari ajaran Islam yang
benar.
Memang
seluk-beluk tarekat tidak bisa dijabarkan dengan mudah karena setiap
tarekat-tarekat tersebut memiliki filsafat dan cara pelaksanaan amal ibadah
masing-masing. Oleh karena itu, penulis berusaha menjelaskan tentang tarekat
dalam makalah ini. Meskipun makalah ini tidak bisa memuat hal-hal yang
berkaitan dengan tarekat secara menyeluruh, tapi paling tidak makalah ini cukup
mampu untuk memperkenalkan kita pada terekat tersebut
1.2 Rumusan Masalah
2 Hubungan Tarekat
dan Tasawuf
3 Aliran-Aliran
Tarekat dalam Tasawuf
4 Pengaruh Tarekat
dalam Islam
1.3
Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan dalam
penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui Pengertian dan
Sejarah Perkembangan Tarekat
2. Untuk mengetahui Hubungan Tarekat
dan Tasawuf
3. Untuk mengetahui
Aliran-Aliran Tarekat dalam Tasawuf
4. Untuk
mengetahui Pengaruh Tarekat dalam Islam
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian dan Sejarah
Perkembangan Tarekat
2.1.1 pengertian tarekat
Tarekat atau Thariqah
berati jalan. Tarekat kemudan dipahami sebagai jalan spiritual yang
ditempuh oleh seorang sufi. Selain kata Tarekat serng juga disebut suluk yang
artinya sama, yaitu perjalanan spiritual, dan yang melakukannya disebut salik.
Pengertian Tarekat sebenarnya merujuk pada sebuah kelompok persaudaraan atau
ordo spriritual yang biasanya didirikan oleh seorang Sufi besar seperti Abdul
Qadir al-Jailani, Sadzili, Jalal al-Din al-Rumi dan lain-lain.[1]
Tarekat adalah
sebuah kata bentukan dari kata Arab thariq atau thariqah dan
bentuk jamaknya adalah thara’iq atau thuruq, yang berarti jalan , tempat lalu
lintas, aliranmazhab, metode, Tarekat berati perjalanan seorang salik (pengikut Tarekat) menuju Tuhan
dengan cara menycikan diri; atau perjalanan yang harus di tempuh oleh seseorang
untuk dapat mendekatkan diri sedekat mungkin kepada tuhan.[2]
Tarikat atau Tarekat
berasal dari lafadzh arab thoriqoh artinya jalan. Kemudian mereka
maksudkan sebagai jalan menuju tuhan, ilmu batin, tasawuf. Perkataan tarikat (jalan
bertasawuf yang bersifat praktis) lebih dikenal ketimbang tasawuf, khususnya
dalam kalangan para pengikut awam yang merupakan bagian terbesar.[3]
Asal kata Tarekat
dalam bahasa arab adalah “thariqah” yang berarti jalan, keadaan , aliran, atau
garis sesuatau. Tarekat adalah jalan yang ditempuh para sufi dan dapat
digambarkan sebagai jalan yang berpangkal dari syariat, sebab jalan utama
disebut syar’ sedangkan anak jalan disebut thariq. Kata turunan
ini menunjukkan bahwa menurut anggapan para sufi, pendidikan mistik adalah
cabang dari jalan utama yang terdiri dari hukum Illahi, tempat berpijak bagi
setiap muslim. Tak mungkin ada anak jalan tanpa ada jalan utama tempat
berpangkal. Pengalaman mistik tidak mungkin didapat bila perintah syariat yang
meningkat itu tidak ditaati terlebih dahulu dengan seksama.[4]
2.1.2 Sejarah perkembangan tarekat
Peralihan tasawuf yang bersifat
personal kepada, tarekat yang bersifat lembaga tidak terlepas dari perkembangan
dan perluasan tasawuf itu sendiri. Semakin luas pengaruh tasawuf, semakin
banyak pula orang yang berhasrat mempelajarinya. Untuk itu, mereka menemui
orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas dalam pengamalan
tasawuf yang dapat menuntun mereka. Sebab, belajar dari seorang guru, dengan metode mengajar yang disusun
berdasarkan pengalaman dalam suatu ilmu yang bersifat praktikal merupakan suatu
keharusan bagi mereka. Seorang guru tasawuf biasanya memang memformulasikan
suatu sistem pengajaran tasawuf berdasarkan pengalamannya sendiri. Sistem
pengajaran itulah yang kemudian menjadi ciri khas bagi suatu tarekat yang
membedakannya dari tarekat yang lain.[5]
Ditinjau dari segi historisnya, kapan dan tarekat mana yang
mula-mula timbul sebagai suatu lembaga, sulit diketahui dengan pasti. Namun,
Dr. Kamil Musthafa Asy-Syibi dalam tesisnya tentang gerakan tasawuf dan gerakan
Syi’ah mengungkapkan, tokoh pertama yang memperkenalkan sistem thariqah
(tarekat) itu Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (w. 561 H/1166 M) di Baghdad, Sayyid
Ahmad Ar-Rifa’i di Mesir dengan Tarekat Rifa’iyyah, dan Jalai Ad-Din Ar-Rumi
(w. 672 H/1273 M) di Parsi.[6]
Harun
Nasution menyatakan bahwa setelah Al-Ghazali menghalalkan tasawuf yang
sebelumnya dikatakan sesat, tasawuf berkembang di dunia Islam, tetapi
perkembangannya melalui tarekat. Tarekat adalah organisasi dari pengikut
sufi-sufi besar. Mereka mendirikan organisasi-organisasi untuk melestarikan
ajaran-ajaran tasawuf gurunya. Maka, timbullah tarekat. Tarekat ini memakai
suatu tempat pusat kegiatan yang disebut ribat (disebut juga zawiyah, hangkah, atau pekii) Ini merupakan tempat murid-murid
berkumpul melestarikan ajaran tasawufnya, ajaran tasawuf walinya, dan ajaran
tasawuf syekhnya.[7]
Organisasi serupa mulai timbul pada abad ke-12 M, tetapi belum
menonjol dan baru tampak perkembangannya pada abad- abad berikutnya. Di samping
untuk pria, ada juga tarekat untuk wanita, tetapi tidak berkembang dengan baik
seperti tarekat pria.[8]
Teori lain sejarah kemunculan tarekat dikemukakan Jhon O Voll. Ia menjelaskan bahwa
penjelasan mistis terhadap tarekat muncul sejak awal sejarah Islam, dan para
sufi mengembangkan jalan-jalan spiritual
personal mereka dengan melibatkan praktik-praktik ibadah, pembacaan kitab suci
dan kepustakaan tentang kesalehan. Para sufi ini kadang-kadang terlibat konflik
dengan otoritas-otoritas dalam komunitas Islam dan memberikan alternatif
terhadap orientasi yang lebih bersifat legalistik, yang disampaikan oleh
kebanyakan ulama. Namun, para sufi secara, bertahap menjadi figur-figur penting
dalam kehidupan keagamaan di kalangan penduduk awam dan mulai mengumpulkan
kelompok-kelompok pengikut yang diidentifikasi dan diikat bersama oleh jalan
tasawuf khusus (tarekat) sang guru. Menjelang abad ke-12 M (ke-5 H),
jalan-jalan ini mulai menyediakan basis bagi kepengikutan yang lebih permanen,
dan tarekat-tarekat sufi pun muncul sebagai organisasi sosial utama dalam
komunitas Islam.[9]
Tarekat-tarekat di seluruh Dunia Islam mengambil beragam bentuk.
Rentangnya mulai dari tarekat sederhana berupa serangkaian kegiatan ibadah
hingga organisasi antarwilayah yang amat besar dengan struktur yang didefinisikan
secara hati-hati. Tarekat-tarekat ini juga mencakup organisasi-organisasi
berumur pendek yang berkembang di seputar individu tertentu serta struktur yang
berusia lebih panjang dengan koherensi institusional. Tarekat tidak terbatas
pada kelas tertentu, walaupun tarekat dengan peserta kaum elit perkotaan yang
terdidik memiliki perspektif yang berbeda dengan tarekat yang mencerminkan
kesalehan rakyat dengan basis yang lebih luas. Begitu pula, praktik dan
pendekatannya bervariasi dari satu wilayah ke wilayah lain. Taiekat-tarekat ini antara lain adalah:
a.
Tarekat Qadiriyah yang didirikan oleh Muhy Ad-Din
Abd Al-Qadir Al-Jailani
b.
Tarekat Syaziliyah yang di
nisbatkan kepada Nur Ad-Din Ahmad Asy-Syadzili.
c.
Tarekat Rifa’iyah yang
didirikan oleh Ahmad Bin Ali Ar-Rifa’i
Tarekat
yang tergolong kepada grup Qadiriyah ini cukup banyak dan tersebar ke seluruh
negeri Islam. Tarekat di Mesir yang dinisbatkan kepada Umar bin Al-Farid yang
kemudian mengilhami tarekat Sanusiyah (Muhammad bin Ali As-Sanusi, 1787-1859 M)
melalui tarekat Idrisiyah (Ahmad bin Idris) di Afrika Utara
merupakan grup Qadiriyah yang masuk ke lndia melalui Muhammad Al-Ghawath (1517
M) yang kemudian dikenal dengan tarekat Al-Ghawthiyah atau Al- Mi’rajiyah dan
di Turki dikembangkan oleh Ismail Ar-Rumi [1041 H/1631 M]. [10]
Karena banyaknya cabang-cabang
tarekat yang timbul dari tiap-tiap tarekat induk, sangat sulit untuk menelusuri
sejarah perkembangan tarekat itu secara sistematis dan konsepsional. Akan
tetapi, yang jelas sesuai dengan penjelasan Harun Nasution cabang-cabang itu
muncul sebagai akibat tersebarnya alumni suatu tarekat yang mendapat ijazah
tarekat dari gurunya untuk membuka perguruan baru sebagai perluasan dari ilmu
yang diperolehnya.[11]
2.2 Hubungan Tarekat
dan Tasawuf
Dalam ilmu
tasawuf, istilah Tarekat tidak saja ditunjukkan kepada aturan dan cara-cara
tertentu yang digunakan oleh seorang syekh Tarekat dan bukan pula terhadap
kelompok yang menjadi pengikut salah seorang syekh Tarekat, tetapi meliputi
aspek ajaran yang ada dalam agama islam, seperti sholat, puasa, zakat, dan haji,
yang semua itu merupakan jalan atau cara mendekatkan diri pada Allah.[12]
Dalam Tarekat
yang sudah melembaga, Tarekat mencakup semua aspek ajaran islam seperti shalat,
zakat, puasa, jihad, dan lain-lain, ditambah pengalaman serta seorang syekh.
Akan tetapi, semua itu terikat dengan
tuntutan dan bimbingan seorang syekh melalui bai’at.[13]
Sebagaimana
telah diketahui bahwa tasawuf itu secara umum adalah usaha mendekatkan diri
kepada Allah ddengan sedekat mungkin, melalui penyesuaian rohani dan
memperbanyak ibadah. Usaha mendekatkan diri ini biasanya dilakukan di bawah
bimbingan guru atau syekh. Ajaran-ajaran tasawuf yang harus ditempuh untuk mendekatkan
diri ini merupakan hakikat Tarekat yang sebenarnya. Dengan demikian, dapat
dikatakan bahwa tasawuf adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan
tareakat adalah jalan yang ditempuh seseorang dalam usahanya mendekatkan diri
kepada Allah. Gambaran ini menunjukkan bahwa Tarekat adalah tasawuf yang telah
berkembang dengan beberapa variasi tertentu sesuai dengan spesifikasi yang
diberikan seorang guru kepada muridnya.[14]
2.3 Aliran-Aliran Tarekat dalam Tasawuf
Berikut ini ada beberapa Tarekat yang
menerangkan nama pendirinya, wafat pendirinya, pengaruh, asal-usulnya, dan
keterangannya yang perlu.
1. Tarikat
Haddadiah
Tarikat yang didirikan oleh Habib
‘Abdulloh bin Ahvi Al-Haddad yang wafat tahun 1095 M di Yaman. Banyak orang
yang takut ikut tarikatnya berhubung ratibnya yang terkenal, Ratib Al-Haddad,
dipercayai sebagai doa selamat yang bermantera. Pengaruhnya tak hanya di Aceh,
tapi hampir di seluruh negara Indonesia.[15]
2. Tarikat
Khalwatiah.
Tarikat yang dipropagandakan dalam
abad ke-18 oleh Syaikh Mushthofa Al-Bakri di Mesir dan Suriah. Salah seorang
tokoh tarikat ini ialah Ahmad At-Tijani yang berasal dari
Aljazair. Tarekat ini didirikan oleh Umar Al-Khalwati [w. 1397 M] dan
merupakan salah satu tarekat yang berkembang di berbagai negeri, seperti Turki,
Syiria, Mesir, Hijaz, dan Yaman. Di Mesir.[16]
Terbagi
kepada beberapa cabang, antara lain tarekat Sammaniyah yang didirikan oleh Muhammad bin
Abd Ai-Karim As-Samani (1718-1775). Tarekat ini dikenal juga dengan nama
tarekat Hafhiyah. Tarekat Khalwatiyah pertama kali muncul di Turki Dari
rumpunan Mesopotamia yang berpusat di Irak, paham tarekatnya bersumber dari Abu
Al-Qasim Al-Junaidi [w. 298 H/910 M] yang melahirkan berbagai tarekat dari
berbagai garis silsilah. Akan tetapi, yang terkenal adalah tarekat Suhrawardiyah yang didirikan oleh Abu Hafs As-
Suhrawardi (632 H), tarekat Kubrawiyah yang didirikan oleh Najmuddin
Kubra (618 H/1221 M), dan tarekat Maulawiyah yang didirikan oleh Jalaluddin
Ar-Rumi (1207 M-1273 M). Tiap-tiap tarekat ini kemudian menumbuhkan
berpuluh-puluh cabang dengan berbagai nama baru sesuai dengan nama pendirinya
di mana ia tumbuh dan tersebar ke seluruh dunia Islam. Akan tetapi, tarekat Kubrawiyah terutama sangat berkembang di
India sedangkan Maulawiyah tumbuh subur di kawasan Turki.[17]
3. Tarikat Maulawiah.
Tarikat yang didirikan oleh Maulaiv
Jalaluddin Ar-Rumi, meninggal dunia di Anatoila, Turki. Dzikirnya disertai
tarian mistik dengan cara keadaan tak sadar, agar dapat bersatu dengan Tuhan.
Penganut-penganutnya bersifat pengasih dan tidak mengharapkan kepentingan diri
sendiri, serta hidup sederhana menjadi teladan bagi orang lain.[18]
4. Tarikat Mu’tabarah Nahdhiyin.
Para kyai pada tanggal 10 Oktober 1957 mendirikan suatu badan
federasi bernama Pucuk pimpinan Jam’iyah Ahli Thariqah Mu‘tabarah, sebagai tindak lanjut
keputusan muktamar NU (Nahdhatul Ulama) 1957 di Magelang. Belakangan dalam
Muktamar NU 1979 di Semarang ditambahkan kata Nahdhiyin, untuk menegaskan bahwa
badan ini tetap berafiliasi kepada NU. Sejak berdirinya pimpinan tertinggi
badan ini ialah para kyai ternama dari pesantren-pesantren besar. [19]
Dalam anggaran dasarnya dinyatakan bahwa badan ini bertujuan:
a.
Meningkatkan pengamalan syariat
Islam di kalangan masyarakat.
b.
Mempertebal kesetiaan masyarakat
kepada ajaran-ajaran dari salah satu madzhab yang empat.
c.
Menganjurkan para anggota agar
meningkatkan amalan- amalan ibadah dan muamalah, sesuai dengan yang dicontohkan
para ulama sholihin.
5. Tarikat Naqsyabandiah.
Tarikat ini mula-mula didirikan di Turkestan oleh Bahiruddin Naqsyabandi
(sumber lain menyebutkan, Muhammad bin Muhammad Bahauddin Al-Bukhori 1317- 1389
M, bukan Imam Al-Bukhori perowi hadits) dan di Indonesia termasuk tarikat yang
paling berpengaruh. Pimpinannya, Sulaiman Effendi, mempunyai markas besar yang
terletak di kaki gunung Abu Qubbais di pinggiran kota Mekah.
Pengikut-pengikutnya kebanyakan dari Turki dan wilayah-wilayah Hindia Belanda
dulu, serta di bekas jajahan Inggris di daerah Melayu. Pada umumnya tarikat ini
paling banyak pengikutnya di Jawa sejak abad ke-19 sampai saat ini. Tarikat ini
adalah tarikat terbesar di dunia, juga
di Indonesia, dan dianggap paling terawat baik. Ada seleksi untuk jadi
pengikutnya. Markasnya di Jawa ada di Jombang, Semarang, Sukabumi, Labuhan Haji
(Aceh) di Pesantren Syaikh Waly, Kholidi.[21]
Tarekat Naqsabandiyah mempunyai dampak dan pengaruh
sangat besar kepada masyarakat muslim di berbagai wilayah yang berbeda-beda.
Tarekat ini pertama kali berdiri di Asia Tengah, kemudian meluas ke Turki,
Suriah, Afghanistan, dan India. Dalam perkembangannya, tarekat ini menyebar ke
Anatolia (Turki) kemudian meluas ke India dan Indonesia dengan berbagai nama
baru yang disesuaikan dengan pendirinya di daerah tersebut, seperti tarekat Khalidiyah, Muradiyah, Mujadidiyah, dan Ciri menonjol tarekat Naqsa adalah: Pertama, mengikuti syariat secara ketat,
keseriusan dalam beribadah yang menyebabkan penolakan terhadap musik dan tari,
dan lebih menyukai berdzikir dalam hati. Kedua, upaya yang serius dalam
memengaruhi kehidupan dan pemikiran golongan penguasa serta mendekati negara
pada agama. Tarekat ini tidak menganut kebijakan isolasi diri dalam menghadapi
pemerintahan yang sedang berkuasa saat itu. Sebaliknya, ia melancarkan
konfrontasi dengan berbagai kekuatan politik agar mengubah pandangan mereka.[22]
6. Tarekat Qodiriyah.
Asal mulanya di Baghdad, dan dipandang paling tua. Pendirinya
ialah Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani (1077- 1166 M). Mula-mula ia seorang ahli
bahasa dan ahli fikih dari madzhab Hanbali. Tulisannya pada umumnya berdasarkan
ajaran Ahlus Sunnah wal Jama‘ah. Ada sejumlah bukunya yang ditulis oleh murid-muridnya
yang menceritakan kesaktiannya. Pelajaran tarikat Qodiriyah tidak jauh berbeda dari pelajaran
Islam umum. Hanya saja tarikat ini mementingkan kasih sayang terhadap semua makhluk, rendah hati dan menjauhi fanatisme dalam
keagamaan maupun politik. Keistimewaan tarikatnya ialah dzikir dengan
menyebut-nyebut nama Tuhan.[23]
Ada
anggapan membaca Manaqib Abdul Qodir Al- Jailani pada tanggal 10 malam tiap bulan bisa melepaskan
kemiskinan. Karena itu manaqibnya populer, baik di Jawa maupun Sumatera. Kadang
kala tarikat ini digabung dengan Naqsyabandiyah menjadi Tarikat Qodiriyah
Naqsyabandiyah. Seperti halnya di Suryalaya (Tasikmalaya Jawa Barat, dipimpin
Abah Anom, yang sering dikunjungi Harun Nasution, pengubah kurikulum IAIN
se-Indonesia, dari manhaj Ahlus Sunnah ke Muktazilah dengan mengandalkan akal
dan mengesampingkan wahyu, akibatnya IAIN jadi rusak akidahnya.[24]
Jalur nasab ayahnya Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani sampai pada Sayidina Hasan, sedang
ibunnya sampai pada Sayidina Husain.
Beliau telah meletakkan dasar-dasar yang kokoh dan prinsip-prinsip
yang benar untuk tarekatnya yang agung dalam kitabnya al- Ghaniyah li Thalibi Thariqil-Haq dan kitabnya al fath ar-Rabbani walFaidl al-Rahmani. Di samping itu, beliau juga memerintahkan kepada muridnya untuk
berdzikir kepada Allah swt pada malam dan siang hari serta setelah shalat lima
waktu, agar dapat wushul kepada-Nya. Tarekat
Qadiriyah ini
penganutnya tersebar
meluas di Mesir, Sudan, Libya, Tunisia, Aljazair,
daratan Afrika, dan Indonesia.[25]
Tarekat Faridiyah di Mesir yang dinisbatkan kepada
Umar bin Al-Farid (1234 Ml yang kemudian mengilhami tarekat Sanusiyah (Muhammad
bin Ali Al-Sanusi, 1787-1859 M) melalui tarekat Idrisiyah (Ahmad bin Idris) di
Afrika Utara merupakan grup Qadiriyah
yang masuk ke India melalui Muhammad kemudian dikenal dengan tarekat
Al-Ghawthiyah atau Al- Mi’rajiyah dan di Turki dikembangkan oleh Ismail Ar-Rumi
11041 H/1631 M).[26]
Di antara'praktik tarekat Qadi adalah dzikir (terutama melantunkan
asma’ Allah berulang-ulang). Dalam
pelaksanaannya terdapat berbagai tingkatan penekanan dan intensitas. Ada dzikir
yang terdiri atas satu, dua, tiga, dan empat. Dzikir dengan satu gerakan
dilaksanakan dengan mengulang-ulang asma' Allah melalui tarikan napas
panjang yang kuat, seakan dihela dari tempat yang tinggi, diikuti penekanan
dari jantung dan tenggorokan, kemudian dihentikan sehingga napas kembali
normal. Hal ini harus diulang secara konsisten untuk waktu yang lama.[27]
7.
Tarikat Qodiriyah Naqsyabandiyah.
Gabungan ajaran dua tarikat, yaitu
Tarikat Qodiriyah dan Tarikat Naqsyabandiyah, Pendirinya Syaikh Khotib Sambas,
Tarikat ini merupakan sarang yang sangat penting bagi penyebaran agama Islam di
Indonesia dan Malaya dari pusatnya di Mekah antara pertengahan abad ke-19
sampai dengan perempat pertama abad ke-20.[28]
Menurut Martin van Bruinessen,
gabungan dari dua tarekat ini menjadi tarekat baru dan berdiri sendiri, bukan
merupakan penggabungan dari dua tarekat berbeda yang diamalkan bersama-sama
Tarekit ini didirikan oleh Ahmad Khatib Sambas yang bermukim dan mengajar di
Mekah pada pertengahan abad ke-19. Tarekat ini merupakan yang paling
berpengaruh dan tersebar secara meluas di Jawa saat ini.[29]
8. Tarikat Rifa'iyah.
Didirikan
oleh Syaikh Ahmad bin ‘Ali Abul Abbas (wafat 578 H /1183 M), Syaikh Ahmad, yang
konon guru Syaikh ‘Abdul Qodir Jailani,
begitu asyik berdzikir hingga tubuhnya terangkat ke atas, ke
angkasa. Tangannya menepuk- nepuk dadanya. Kemudian Allah memerintahkan kepada
bidadari untuk memberinya rebana di dadanya, daripada menepuk-nepuk dada.[30]
Tapi Syaikh Ahmad tidak ingat apa-apa begitu khusyuknya, sehingga
ia tak mendengar suara rebananya yang nyaring itu. Padahal seluruh dunia
mendengar suara rebana itu, Tarikat ini agak fanatik dan anggotanya dapat melakukan hal- hal
yang ajaib, misalnya makan pecahan kaca, berjalan di atas api, dan sebagainya.
Rifa'iyah, yang memang merinci tarikatnya dengan rebana, di Aceh dulu pernah
berkembang besar dan disebut Rapa’i, sudah sulit mencarinya yang asli, yang
masih berpegang teguh pada ajaran.[31]
Sayid Ahmad ar-Rifa’i telah meletakkan dasar- dasar yang kuat dan
prinsip-prinsip yang kokoh untuk tarekat yang nubarakab, yaitu ajakan untuk beriman dan
mengikuti sunnah Rasul Allah, menjaga rukun Islam, berpegang pada
keutamaan-keutamaan menjauhi hal-hal yang hina (sifat dan perilaku yang nista).[32]
Tarekat sufi Sunni ini memainkan peranan penting dalam pelembagaan
sufisme. Kemungkinan besar, hingga abad ke-15, Rifa’iyah merupakan tarekat-sufi
pertama yang paling tersebar luas. Setelah itu, popularitas Rifa'iyah berlanjut
di Dunia Arab. Di sana, pada akhir abad ke-19‘dan awal abad ke-20, tarekat ini
memiliki jumlah terbesar. Sejak itu, tarekat ini mengalami kemunduran hingga belakangan
ini. Meskipun terdapat di tempat-tempat lain, tarekat ini paling signifikan
.berada di Turki, Eropa Tenggara, Mesir, Palestina, Suriah, dan Irak, dan
sedang muncul di Amerika Serikat.[33]
9. Tarikat Samaniyah.
Tarikat
yang dikenal di Jawa Barat dan Aceh, didirikan oleh Syaikh Muhammad Saman dari
Madinah, Arab Saudi, yang wafat tahun 1702 M. Manaqib (riwayat hidup) Syaikh Saman
banyak dibaca orang yang mengharap berkah. Manaqib itu ditulis oleh Syaikh Siddiq
Al-Madani, murid beliau. Di situ tertulis, barangsiapa berziarah ke makam Rosulullah
tanpa meminta izin kepada Syaikh Saman ziarahnya sia-sia. (Ini contoh kebatilan
yang nyata). Juga disebutkan, siapa yang menyeru nama Syaikh tiga kali, hilang
kesedihannya. Siapa yang makan makanannya masuk surga. Siapa yang berziarah ke
makamnya serta membaca doa-doa untuknya, diampuni dosanya. (Ini benar-benar mengada-ada na'udzubillahi min dalik). Tarikat Saman sekarang menjadi tari Seudati di Aceh, Dzikir Saman
mulanya hampir sama dengan dzikir-dzikir yang lain. Namun kemudian berkembang
menjadi dzikir yang ekstrim.[34]
Sammaniyah adalah tarekat yang pertama
mendapat pengikut massal di Nusantara. Hal menarik dari tarekat ini yang,
menjadi ciri khasnya “adalah corak wahdat al-wuju d yang dianut dan syathahat yang terucap olehnya tidak
bertentangan dengan syariat Dalam kitab Manaqib Syaikh Al-Waliy
Asy-Syahir sendiri jelas disebutkan bahwa Syekh Samman adalah seorang sufi
yang telah menggabungkan antara syariat dan tarekat.[35]
10. Tarikat Sanusiyah.
Tarekat yang didirikan oleh Syaikh Muhammad bin 'Ali As-Sanusi, tahun 1837 M,
dl Aljazair, meninggal dunia tahun 1957 M. Pusat Tarekat ini di Libia.[36]
Sayyid Muhammad bin ‘Ali As-Sanusi yang biasa dipanggil dengan
Sanusi Agung (lahir 22 Desember 1787). Dalam tarekat ini, dzikir bisa dilakukan
bersama-sama atau sendirian. Tujuan dzikir itu lebih dimaksudkan untuk melihat
Nabi ketimbang melihat Tuhan, sehingga tidak dikenal Keadaan ekstatis
sebagaimana yang ada pada tarekit lain. Untuk melihat Nabi, pelantun dzikir
harus konsentrasi membayangkan diri Nabi di dalam hatinya sampai ia dapat
melihatnya.[37]
11. Tarikat Siddiqiyah.
Asal-usul tarikat Ini tidak begitu jelas
dan tidak terdapat di negara-negara lain, Muncul dan berkembang di Jombang,
Jawa Timur, dimulai oleh keglalan Kyai Mukhtar Mukti yang mendirikan tarikat ini
tahun 1953 M.[38]
Didirikan oleh Kyai Mukhtar Mukti
di Losari Plodo (Jombang) pada tahun 1958, Ia dikenal sebagal dukun yang sakti
sehingga banyak pengikutnya dari kalangan penderita penyakit kronis, bekas pecandu
minuman, dan mereka yang dibebani perasaan bersalah atau frustasi akibat
kegagalan di bidang politik dan perdagangan. Di samping itu, banyak juga
pengikutnya dari kalangan abangan. Ajaran- ajaran tauhid disajikannya dalam bentuk
yang sudah disesuaikan dengan budaya masyarakat Jawa dan amalan-amalan sufi
yang diajarkannya terdiri dari ratib-ratib panjang yang diikuti dengan latihan
pengaturan napas.[39]
12. Tarikat Syattariyah.
Tarikat yang dibangun oleh Syaikh
‘Abdulloh Syattarl di India. Tarlkat Ini di Jawa masih ada, misalnya di sekitar
Madiun, Jawa Timur. Dl Aceh dulu mengalami puncaknya di zaman Sultanah (Ratu)
Safiatuddin.[40]
Tarekat
ini dikembangkan pertama kali di Indonesia oleh Abdurrauf Singkel di Aceh yang
kemudian menyebar ke jawa Barat oleh Abdul Muhyi, salah seorang murid
Abdurrauf. Dari Jawa Barat, tarekat ini kemudian menyebar ke Jawa Tengah dan
Jawa Timur. Tarekat ini tidak mementingkan syariat termasuk kewajiban shalat
lima waktu, tetapi mementingkan shalat permanen [shalat da’im]. Barangkali inilah salah satu
faktor yang menarik minat kaum abangan di Jawa untuk memasuki tarekat ini di
samping untuk memperoleh kesaktian. Adapun dasar tarekat ini adalah martabat
tujuh yang sebenarnya tidak begitu erat hubungannya dengan praktik ritualnya.[41]
l3. Tarikat Syaziliyah.
Tarikat yang didirikan oleh ‘All Asy-Syazili, terdapat di Afrika
Utara dan Arab, juga Indonesia, walaupun tidak luas tersebarnya dan pengaruhnya
relatif kecil. Kehidupan beliau adalah kehidupan seorang syaikh pengernbara di
muka bumi, sambil bersungguh-sungguh dengan berdzikir dan berfikir untuk
mencapai fana’ (ketiadaan diri di hadapan Allah). Dan beliau mengajarkan pada
muridnya sikap zuhud pada dunia dan iqbal (perasaan hadir di hadapan Allah), Dan juga
menganjurkan mereka untuk berdzikir kepada Allah swt di setiap waktu, tempat,
dan keadaan serta menempuh jalan Tasawuf. Beliau juga mewasiatkan agar para
muridnya membaca kitab Ihya’ Ulurnuddin dan kitab Qutul Qttlub. Tarekat Syadzaliyah ini
berkembang dan tersebar di Mesir, Sudan, Libia, Tunisia, al-Jazair, Negeri
utara Afrika, dan juga Indonesia.[42]
14. Tarikat Tijaniyah.
Tarikat yang didirikan oleh Ahmad At-Tijani.
Tarikat ini dengan cepat meluas dl Afrika Barat dan di negara-negara lain, di
antaranya Indonesia. Di Afrika tarikat ini telah banyak yang mengislamkan
orang-orang Negro. Ahmad At-Tijani ini mengaku dirinya adalah makturn, yang menjadi penengah antara semua
anbiya’ (para nabi) dan auliya' (para wali).[43]
Tarekat Tijaniyah ini tersebar luas di Mesir, Kepulauan .Arab, sebagian penjuru Asia, Afrika Hitam, dan di
barat Afrika Para pengikut Tarekat ini mempunyai sumbangan yang besar terhadap
Islam, karena mereka telah menyebarkan prinsip ke rengah-tengah kaum penyembah
berhala di Afrika,dan memasukkan mereka ke dalam Islam, sebagaiman mereka yang juga
besar dalam menolak misi para misionaris Nasrani di Afrika.[44]
15.
Tarikat Wahidiyah.
Tarikat ini didirikan oleh Kyai Majid
Ma’ruf di Kedonglo, Kediri (Jawa Timur), 1963. Teoritis tarikat ini terbuka
sifatnya, karena orang tidak usah mengucapkan sumpah untuk menjadi anggota,
siapa saja yang mengamalkan dzikir salawat wahidiyah sudah dianggap sebagal anggota.
Motivasi mendirikan tarikat ini
adalah meningkatkan ketaatan orang Islam kepada perintah-perintah
agama. Pendirinya menganggap masyarakat Jawa dewasa ini mengalami kekosongan
agama dan kejiwaan. Itulah sebabnya ia mengajak masyarakat Islam agar
meningkatkan ketakwaannya kepada Tuhan dengan setiap kali mengucapkan dzikir 'Fafirruilalloh', artinya, ‘Larilah kita kembali ke
jalan Allah.[45]
menurut pengakuan pendirinya
disusun berdasarkan ilham dari Allah. Shalawat ini dibaca secara bersama-sama
yang menyebabkan para pengamalnya menangis meraung-raung dan tak bisa menguasai
diri. Tarekat ini mempunyai banyak pengikut di kalangan masyarakat awam Kediri
dan menyebar ke seluruh Jawa Timur.[46]
16. Tarekat Yasafiyah dan Khawajagawiyah
Tarekat Yasafiyah didirikan oleh Ahmad Al-Yasafi (w.
562 H/1169 M) dan disusul oleh tarekat Khawajagawiyah yang disponsori oleh Abd Al-Khaliq
Al-Ghuzdawani (w. 617 H/1220 M). Kedua tarekat ini menganut paham tasawuf Abu
Yazid Al- Bustami (w. 425 H/1034 M) dan dilanjutkan oleh Abu Al- Farmadhi (w.
477 H/1084 M) dan Yusuf bin Ayyub Al-Hamadani (w. 535 H/1140 M). Tarekat Yasafiyah berkembang ke berbagai daerah,
antara lain ke Turki. Di sana, tarekat ini berganti nama dengan tarekat Bektashiya yang diidentikkan kepada pendirinya
Muhammad ‘Ata’ bin Ibrahim Hajji Bektasy (w. 1335 M). Tarekat ini sangat populer
dan pernah memegang peranan penting di Turki yang dikenal dengan Korp Jenissari
yang diorganisir oleh Murad I pada masa Turki Utsmani.[47]
2.4
Pengaruh Tarekat dalam Islam
Dari prospektif sejarah, Tarekat
mulai muncul di masyarakat Islam pada awal abad kesebelas, ditandai dengan
munculnya Tarekat Qadariyah, yang didirikan oleh Syaikh Abdul Qadir Jailani.
Adapun faktor-faktor yang mendorong terbentuknya
Tarekat dalam pengertian sekarang sebagai lembaga baku antara lain adalah:
1.
Pengakuan
yanng diberikan kepada tasawuf oleh para ulama, berkat tulisan-tulisan
Al-Ghazali.
2.
Hilangnya
otoritas kekhalifahan bersama dengan kerancuan dan ketidakpastian yang
disebabkan oleh invasi-invasi awal bangsa mongol.
3.
Kalahnya
kau muslim oleh kaum non-muslim.[48]
Sehubungan dengan hal tersebut, dari
abad kesebelas dan seterusnya, apa yang sekarang kita sebut dengan Tarekat-Tarekat besar
bermunculan. Tarekat memiliki peran
penting setelah masa ini, misalnya Tarekat bisa menembah dimensi emosional dan
spiritual kepada sistem formal ibadah. Tarekat juga mampu menambah keintiman
pada kehidupan sosial, misalnya dengan menyediakan pos-pos dan gardu-gardu
bantuan pada musafir atau pelencong dan pedagang, dan terkadang berfungsi
sebagai lembaga keuangan serta kredit. Karena itu, fungsi mereka berkembang
dari membimbing jiwa-jiwa manusia ke tingkat tertinggi dari spiritualitas,
hingga memberi petunjuk dan dukungan bagi kebutuhan hidup sosial, politik,
ekonomi sehari-hari.[49]
Dalam perkembangannya, tarekat-tarekat itu bukan hanya memusatkan
perhatian kepada tasawuf ajaran-ajaran gurunya, tetapi juga mengikuti kegiatan
politik. Umpamanya tarekat Tijaniyah yang dikenal dengan gerakan
politik yang menentang penjajahan Perancis di Afrika Utara. Sanusiyah menentang
penjajahan Itali di Libia. Ahmadiyah menentang orang-orang Salib yang datang ke
Mesir. Jadi, sungguh pun mereka memusatkan perhatian kepada akhirat, kalau
sudah ada pola dunianya, mereka ikut bergerak menyelamatkan umat Islam dari
bahaya yang mengancamnya.[50]
Tarekat memengaruhi dunia Islam mulai dari abad ke-13. Kedudukan
tarekat saat itu sama dengan parpol (Partai Politiki) Bahkan, tentara juga
menjadi anggota tarekat. Penyokong tarekat Bektashi, umpamanya, adalah tentara
Turki. Oleh karena itu, ketika tarekat itu dibubarkan oleh Sultan Mahmud II,
tentara Turki yang disebut Jenissari menentangnya. Jadi, tarekat tidak hanya
bergerak dalam persoalan agama, tapi juga bergerak dalam persoalan dunia yang
mereka pikirkan.[51]
Tarekat-tarekat keagamaan meluaskan
pengaruh dan organisasinya ke seluruh pelosok negeri menguasai masyarakat
melalui suatu jenjang yang terancang dengan baik dan memberikan otonomi kedaerahan
seluas-luasnya.[52]
“ Perkembangan” yang terjadi pada abad ke-18 menyediakan landasan
penting bagi peristiwa-peristiwa terkemudian dalam kehidupan Islam umumnya
dalam sejarah tarekat-tarekat sufi khususnya adalah Dunia Islam sebagaimana ada
pada abad ke-18 dan awal abad ke-19 bukan formulasi abad pertengahan yang agak
klasikal yang berjumpa "dengan perluasan dan modernisasi Barat. Dalam
perjumpaan-perjumpaan itu, tarekat-tarekat sufi memainkan peran penting, tetapi
kadang-kadang tidak memperoleh perhatian sebanyak kegiatan-kegiatan yang
dilakukan oleh gerakan-gerakan yang lebih radikal ataupun gerakan-gerakan yang
secara lebih eksplisit dibentuk dan dipengaruhi oleh Barat.[53]
Pada abad ke-19 dan ke-20, tradisi-tradisi yang berlainan terlibat
dengan berbagai tarti dalam membantu membentuk respons-respons Muslim terhadap
barat dan mendefinisikan pula bentuk-bentuk modernitas Islam. Pada saat yang
sama, walaupun dalam konteks yang berukah, Banyak tema pokok dalam
pengalaman-pengalaman lama tarekat yang tetap berlanjut. Namun, pada abad
ke-20, peran tarekat kadang-kadang berbeda Tarekat-tarekat mapan tampak tidak
efektif dalam menjawab tantangan tertentu modernitas, namun struktur-struktur
dasar atau pendekatan umum masih menyediakan model bagi gerakan revivalis dan
reformis Islam baru.[54]
Banyak pengamat berpikir bahwa begitu masyarakat menjadi lebih
modem dan terindustrialisasi, fungsi-fungsi sosial guru sufi dan organisasi
mereka akan menurun. Pada pertengahan abad ke-20, banyak analisis yang
melukiskan gambaran tentang berkurangnya, dan mungkin lenyapnya,
tarekat-tarekat sufi. Namun, berlainan dengan oposisi dan prediksi-prediksi
itu, tarekat-tarekat sufi justru semakin kuat secara menakjubkan di sebagian
besar dunia Islam serta dalam komunitas muslim tempat mereka menjadi minoritas.[55]
Tarekat-tarekat sufi terus menyediakan sarana bagi
pengartikulasian identitas Islam inklusif dengan penekanan yang Jelas bahwa
transformasi besar era modem tidak menghancurkan basis bagi polaritas ini. Dalam
konteks yang berubah pada akhir abad ke-20, tradisi tarekat-tarekat sufi
memiliki kekuatan khusus dalam situasi yang mengandung derajat pluralisme
keagamaan yang demikian tinggi. Mereka mengizinkan kaum mukmin untuk memelihara
identitas pemujaan Islam individual pada saat tidak ada mayoritas muslim dalam
lingkup nasional ataupun masyarakat. Tradisi-tradisi ini juga mengizinkan
artikulasi Islam dalam bentuk yang sesuai dengan perspektif sekularis. Dengan
demikian, sufisme menjadi penting dalam masyarakat nonmuslim di Eropa Barat dan
Amerika Utara. Selain itu, karena jelas bahwa tidak mungkin memindahkan salinan
institusional dari perhimpunan- perhimpunan merupakan sesuatu yang tidak
tampak, yang memberi semangat pada kehidupan komunitas Muslim[56]
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat diambil
kesimpulan:
Istilah tarekat
diambil dari bahasa Arab thariqah yang berarti jalan atau metode.
Sedangkan pengertian tarekat secara istilah adalah suatu jalan atau cara untuk
mendekatkan diri kepada Allah, dengan mengamalkan ilmu Tauhid, Fikih dan
Tasawuf. Ia bisa juga berarti sebuah pengorganisasian dari tasawuf. Adapun
tujuan utama pendirian berbagai tarekat oleh para sufi adalah untuk membina dan
mengarahkan seseorang agar bisa merasakan hakikat Tuhannya dalam kehidupan
sehari-hari melalui perjalanan ibadah yang terarah dan sempurna. Pada awalnya,
tarekat itu merupakan bentuk praktik ibadah yang diajarkan secara khusus kepada
orang tertentu. Misalnya, Rasulullah mengajarkan wirid atau zikir yang perlu
diamalkan oleh Ali ibn Abi Thalib. Kemudian kemunculan tarekat sendiri diawali
dengan pengklasifikasian antara syariat, tahriqat, haqiqat, dan
makrifat oleh para sufi. Barulah pada abad ke-5 Hijriyah atau 13 Masehi muncul
tarekat sebagai kelanjutan dari pemikiran kaum sufi tersebut. Sedangkan
kehadiran tarekat di Indonesia sama tuanya dengan kehadiran Islam. Namun hanya
ada beberapa tarekat yang bisa masuk dan berkembang di Indonesia. Dalam
perkembangannya, tarekat-tarekat terpecah menjadi banyak sesuai guru dan keadaan
lingkungan masing-masing. Ada 41 macam tarekat-tarekat yang dianggap sah.
3.2 Saran
Dalam memahami tarekat tidak cukup
hanya dengan mempelajari sekilas saja. Karena seluk-beluk tarekat sangatlah
rumit dan penuh dengan teka-teki. Sebab ruang lingkup tarekat adalah spiritual
yang tidak bisa dipelajari kecuali dengan pengalaman batiniyah tersendiri.
DAFTAR RUJUKAN
Jaiz, Hartono Ahmad. 2006. Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan
Maulidan. Solo: Wacana Ilmiah Press.
Solihin dan Anwar Rosihon. 2014. Ilmu Kalam. Bandung:
Pustaka Setia.
Tohir, Moenir Nahrowi. 2012. Menjelajahi Ekstensi Tasawuf.
Jakarta: PT As-Salam Sejahtera
[1]Jaiz, Hartono Ahmad. Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan Maulidan.
(Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:87
[3] Jaiz, Hartono
Ahmad. Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan
Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm: 23
[15]
Jaiz,
Hartono Ahmad. Tarekat, Tasawuf,
Tahlilan dan Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:24
[16] Ibid
hlm 24
[18]
Jaiz,
Hartono Ahmad. Tarekat, Tasawuf,
Tahlilan dan Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:24
[19]ibid:25
[20] Ibid:25
[21]i Jaiz, Hartono
Ahmad. Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan
Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:25-26
[23]
Jaiz,
Hartono Ahmad. Tarekat, Tasawuf,
Tahlilan dan Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:26-27
[24]Ibid :28
[27] Ibid:212
[28]
Jaiz,
Hartono Ahmad. Tarekat, Tasawuf,
Tahlilan dan Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:28
[30]
Jaiz,
Hartono Ahmad. Tarekat, Tasawuf,
Tahlilan dan Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:28
[31]i Jaiz, Hartono
Ahmad. Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan
Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:28
[34]
Jaiz,
Hartono Ahmad. Tarekat, Tasawuf,
Tahlilan dan Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:28-2
[38]
Jaiz,
Hartono Ahmad. Tarekat, Tasawuf,
Tahlilan dan Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:29
[40]
Jaiz,
Hartono Ahmad. Tarekat, Tasawuf,
Tahlilan dan Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:29
[43]
Jaiz,
Hartono Ahmad. Tarekat, Tasawuf,
Tahlilan dan Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:29
[45] Ibid : 29-30
[48] Jaiz, Hartono Ahmad. Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan Maulidan.
(Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:105
[49] Jaiz, Hartono Ahmad. Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan Maulidan.
(Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm :105-106
[52] Ibid :224
Tidak ada komentar:
Posting Komentar