Senin, 11 September 2017

tarekat

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tarekat merupakan bagian dari ilmu tasawuf. Namun tak semua orang yang mempelajari tasawuf terlebih lagi belum mengenal tasawuf akan faham sepenuhnya tentang tarekat. Banyak orang yang memandang tarekat secara sekilas akan menganggapnya sebagai ajaran yang diadakan di luar Islam (bid’ah), padahal tarekat itu sendiri merupakan pelaksanaan dari peraturan-peraturan syari’at Islam yang sah. Namun tidak sedikit tarekat-tarekat yang dikembangkan dan dicampuradukkan dengan ajaran-ajaran yang menyeleweng dari ajaran Islam yang benar.
Memang seluk-beluk tarekat tidak bisa dijabarkan dengan mudah karena setiap tarekat-tarekat tersebut memiliki filsafat dan cara pelaksanaan amal ibadah masing-masing. Oleh karena itu, penulis berusaha menjelaskan tentang tarekat dalam makalah ini. Meskipun makalah ini tidak bisa memuat hal-hal yang berkaitan dengan tarekat secara menyeluruh, tapi paling tidak makalah ini cukup mampu untuk memperkenalkan kita pada terekat tersebut
1.2 Rumusan Masalah
2 Hubungan Tarekat dan Tasawuf
3 Aliran-Aliran Tarekat dalam Tasawuf
4 Pengaruh Tarekat dalam Islam
1.3         Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui Pengertian dan Sejarah Perkembangan Tarekat 
2. Untuk mengetahui Hubungan Tarekat dan Tasawuf
3. Untuk mengetahui Aliran-Aliran Tarekat dalam Tasawuf
4. Untuk mengetahui Pengaruh Tarekat dalam Islam

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian dan Sejarah Perkembangan Tarekat
2.1.1 pengertian tarekat
Tarekat atau Thariqah berati jalan. Tarekat kemudan dipahami sebagai jalan spiritual yang ditempuh oleh seorang sufi. Selain kata Tarekat serng juga disebut suluk yang artinya sama, yaitu perjalanan spiritual, dan yang melakukannya disebut salik. Pengertian Tarekat sebenarnya merujuk pada sebuah kelompok persaudaraan atau ordo spriritual yang biasanya didirikan oleh seorang Sufi besar seperti Abdul Qadir al-Jailani, Sadzili, Jalal al-Din al-Rumi dan lain-lain.[1]
Tarekat adalah sebuah kata bentukan dari kata Arab thariq atau thariqah dan bentuk jamaknya adalah thara’iq  atau  thuruq, yang berarti jalan , tempat lalu lintas, aliranmazhab, metode, Tarekat berati perjalanan seorang  salik (pengikut Tarekat) menuju Tuhan dengan cara menycikan diri; atau perjalanan yang harus di tempuh oleh seseorang untuk dapat mendekatkan diri sedekat mungkin kepada  tuhan.[2]
Tarikat atau Tarekat berasal dari lafadzh arab thoriqoh artinya jalan. Kemudian mereka maksudkan sebagai jalan menuju tuhan, ilmu batin, tasawuf. Perkataan tarikat (jalan bertasawuf yang bersifat praktis) lebih dikenal ketimbang tasawuf, khususnya dalam kalangan para pengikut awam yang merupakan bagian terbesar.[3]
Asal kata Tarekat dalam bahasa arab adalah “thariqah” yang berarti jalan, keadaan , aliran, atau garis sesuatau. Tarekat adalah jalan yang ditempuh para sufi dan dapat digambarkan sebagai jalan yang berpangkal dari syariat, sebab jalan utama disebut syar’ sedangkan anak jalan disebut thariq. Kata turunan ini menunjukkan bahwa menurut anggapan para sufi, pendidikan mistik adalah cabang dari jalan utama yang terdiri dari hukum Illahi, tempat berpijak bagi setiap muslim. Tak mungkin ada anak jalan tanpa ada jalan utama tempat berpangkal. Pengalaman mistik tidak mungkin didapat bila perintah syariat yang meningkat itu tidak ditaati terlebih dahulu dengan seksama.[4]
2.1.2 Sejarah perkembangan tarekat
                Peralihan tasawuf yang bersifat personal kepada, tarekat yang bersifat lembaga tidak terlepas dari perkembangan dan perluasan tasawuf itu sendiri. Semakin luas pengaruh tasawuf, semakin banyak pula orang yang berhasrat mempelajarinya. Untuk itu, mereka menemui orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas dalam pengamalan tasawuf yang dapat menuntun mereka. Sebab, belajar dari seorang guru,  dengan metode mengajar yang disusun berdasarkan pengalaman dalam suatu ilmu yang bersifat praktikal merupakan suatu keharusan bagi mereka. Seorang guru tasawuf biasanya memang memformulasikan suatu sistem pengajaran tasawuf berdasarkan pengalamannya sendiri. Sistem pengajaran itulah yang kemudian menjadi ciri khas bagi suatu tarekat yang membedakannya dari tarekat yang lain.[5]
Ditinjau dari segi historisnya, kapan dan tarekat mana yang mula-mula timbul sebagai suatu lembaga, sulit diketahui dengan pasti. Namun, Dr. Kamil Musthafa Asy-Syibi dalam tesisnya tentang gerakan tasawuf dan gerakan Syi’ah mengungkapkan, tokoh pertama yang memperkenalkan sistem thariqah (tarekat) itu Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (w. 561 H/1166 M) di Baghdad, Sayyid Ahmad Ar-Rifa’i di Mesir dengan Tarekat Rifa’iyyah, dan Jalai Ad-Din Ar-Rumi (w. 672 H/1273 M) di Parsi.[6]
            Harun Nasution menyatakan bahwa setelah Al-Ghazali menghalalkan tasawuf yang sebelumnya dikatakan sesat, tasawuf berkembang di dunia Islam, tetapi perkembangannya melalui tarekat. Tarekat adalah organisasi dari pengikut sufi-sufi besar. Mereka mendirikan organisasi-organisasi untuk melestarikan ajaran-ajaran tasawuf gurunya. Maka, timbullah tarekat. Tarekat ini memakai suatu tempat pusat kegiatan yang disebut ribat (disebut juga zawiyah, hangkah, atau pekii) Ini merupakan tempat murid-murid berkumpul melestarikan ajaran tasawufnya, ajaran tasawuf walinya, dan ajaran tasawuf syekhnya.[7]
Organisasi serupa mulai timbul pada abad ke-12 M, tetapi belum menonjol dan baru tampak perkembangannya pada abad- abad berikutnya. Di samping untuk pria, ada juga tarekat untuk wanita, tetapi tidak berkembang dengan baik seperti tarekat pria.[8]
Teori lain sejarah kemunculan tarekat dikemukakan Jhon O Voll. Ia menjelaskan bahwa penjelasan mistis terhadap tarekat muncul sejak awal sejarah Islam, dan para sufi  mengembangkan jalan-jalan spiritual personal mereka dengan melibatkan praktik-praktik ibadah, pembacaan kitab suci dan kepustakaan tentang kesalehan. Para sufi ini kadang-kadang terlibat konflik dengan otoritas-otoritas dalam komunitas Islam dan memberikan alternatif terhadap orientasi yang lebih bersifat legalistik, yang disampaikan oleh kebanyakan ulama. Namun, para sufi secara, bertahap menjadi figur-figur penting dalam kehidupan keagamaan di kalangan penduduk awam dan mulai mengumpulkan kelompok-kelompok pengikut yang diidentifikasi dan diikat bersama oleh jalan tasawuf khusus (tarekat) sang guru. Menjelang abad ke-12 M (ke-5 H), jalan-jalan ini mulai menyediakan basis bagi kepengikutan yang lebih permanen, dan tarekat-tarekat sufi pun muncul sebagai organisasi sosial utama dalam komunitas Islam.[9]
Tarekat-tarekat di seluruh Dunia Islam mengambil beragam bentuk. Rentangnya mulai dari tarekat sederhana berupa serangkaian kegiatan ibadah hingga organisasi antarwilayah yang amat besar dengan struktur yang didefinisikan secara hati-hati. Tarekat-tarekat ini juga mencakup organisasi-organisasi berumur pendek yang berkembang di seputar individu tertentu serta struktur yang berusia lebih panjang dengan koherensi institusional. Tarekat tidak terbatas pada kelas tertentu, walaupun tarekat dengan peserta kaum elit perkotaan yang terdidik memiliki perspektif yang berbeda dengan tarekat yang mencerminkan kesalehan rakyat dengan basis yang lebih luas. Begitu pula, praktik dan pendekatannya bervariasi dari satu wilayah ke wilayah lain.  Taiekat-tarekat ini antara lain adalah:
a.     Tarekat Qadiriyah yang didirikan oleh Muhy Ad-Din Abd Al-Qadir Al-Jailani
b.     Tarekat Syaziliyah yang di nisbatkan kepada Nur Ad-Din Ahmad Asy-Syadzili.
c.     Tarekat Rifa’iyah yang didirikan oleh Ahmad Bin Ali Ar-Rifa’i
            Tarekat yang tergolong kepada grup Qadiriyah ini cukup banyak dan tersebar ke seluruh negeri Islam. Tarekat di Mesir yang dinisbatkan kepada Umar bin Al-Farid yang kemudian mengilhami tarekat Sanusiyah (Muhammad bin Ali As-Sanusi, 1787-1859 M) melalui tarekat Idrisiyah (Ahmad bin Idris) di Afrika Utara merupakan grup Qadiriyah yang masuk ke lndia melalui Muhammad Al-Ghawath (1517 M) yang kemudian dikenal dengan tarekat Al-Ghawthiyah atau Al- Mi’rajiyah dan di Turki dikembangkan oleh Ismail Ar-Rumi [1041 H/1631 M]. [10]
Karena banyaknya cabang-cabang tarekat yang timbul dari tiap-tiap tarekat induk, sangat sulit untuk menelusuri sejarah perkembangan tarekat itu secara sistematis dan konsepsional. Akan tetapi, yang jelas sesuai dengan penjelasan Harun Nasution cabang-cabang itu muncul sebagai akibat tersebarnya alumni suatu tarekat yang mendapat ijazah tarekat dari gurunya untuk membuka perguruan baru sebagai perluasan dari ilmu yang diperolehnya.[11]
2.2 Hubungan Tarekat dan Tasawuf
Dalam ilmu tasawuf, istilah Tarekat tidak saja ditunjukkan kepada aturan dan cara-cara tertentu yang digunakan oleh seorang syekh Tarekat dan bukan pula terhadap kelompok yang menjadi pengikut salah seorang syekh Tarekat, tetapi meliputi aspek ajaran yang ada dalam agama islam, seperti sholat, puasa, zakat, dan haji, yang semua itu merupakan jalan atau cara mendekatkan diri pada Allah.[12]
Dalam Tarekat yang sudah melembaga, Tarekat mencakup semua aspek ajaran islam seperti shalat, zakat, puasa, jihad, dan lain-lain, ditambah pengalaman serta seorang syekh. Akan tetapi, semua itu terikat dengan  tuntutan dan bimbingan seorang syekh melalui bai’at.[13]
Sebagaimana telah diketahui bahwa tasawuf itu secara umum adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah ddengan sedekat mungkin, melalui penyesuaian rohani dan memperbanyak ibadah. Usaha mendekatkan diri ini biasanya dilakukan di bawah bimbingan guru atau syekh. Ajaran-ajaran tasawuf yang harus ditempuh untuk mendekatkan diri ini merupakan hakikat Tarekat yang sebenarnya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tasawuf adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan tareakat adalah jalan yang ditempuh seseorang dalam usahanya mendekatkan diri kepada Allah. Gambaran ini menunjukkan bahwa Tarekat adalah tasawuf yang telah berkembang dengan beberapa variasi tertentu sesuai dengan spesifikasi yang diberikan seorang guru kepada muridnya.[14]
2.3 Aliran-Aliran Tarekat dalam Tasawuf
          Berikut ini ada beberapa Tarekat yang menerangkan nama pendirinya, wafat pendirinya, pengaruh, asal-usulnya, dan keterangannya yang perlu.
1.    Tarikat Haddadiah
                   Tarikat yang didirikan oleh Habib ‘Abdulloh bin Ahvi Al-Haddad yang wafat tahun 1095 M di Yaman. Banyak orang yang takut ikut tarikatnya berhubung ratibnya yang terkenal, Ratib Al-Haddad, dipercayai sebagai doa selamat yang bermantera. Pengaruhnya tak hanya di Aceh, tapi hampir di seluruh negara Indonesia.[15]
2.    Tarikat Khalwatiah.
                   Tarikat yang dipropagandakan dalam abad ke-18 oleh Syaikh Mushthofa Al-Bakri di Mesir dan Suriah. Salah seorang tokoh tarikat ini ialah Ahmad At-Tijani yang berasal dari Aljazair. Tarekat ini didirikan oleh Umar Al-Khalwati [w. 1397 M] dan merupakan salah satu tarekat yang berkembang di berbagai negeri, seperti Turki, Syiria, Mesir, Hijaz, dan Yaman. Di Mesir.[16]
             Terbagi kepada beberapa cabang, antara lain tarekat Sammaniyah yang didirikan oleh Muhammad bin Abd Ai-Karim As-Samani (1718-1775). Tarekat ini dikenal juga dengan nama tarekat Hafhiyah. Tarekat Khalwatiyah pertama kali muncul di Turki Dari rumpunan Mesopotamia yang berpusat di Irak, paham tarekatnya bersumber dari Abu Al-Qasim Al-Junaidi [w. 298 H/910 M] yang melahirkan berbagai tarekat dari berbagai garis silsilah. Akan tetapi, yang terkenal adalah tarekat Suhrawardiyah yang didirikan oleh Abu Hafs As- Suhrawardi (632 H), tarekat Kubrawiyah yang didirikan oleh Najmuddin Kubra (618 H/1221 M), dan tarekat Maulawiyah yang didirikan oleh Jalaluddin Ar-Rumi (1207 M-1273 M). Tiap-tiap tarekat ini kemudian menumbuhkan berpuluh-puluh cabang dengan berbagai nama baru sesuai dengan nama pendirinya di mana ia tumbuh dan tersebar ke seluruh dunia Islam. Akan tetapi, tarekat Kubrawiyah terutama sangat berkembang di India sedangkan Maulawiyah tumbuh subur di kawasan Turki.[17]
3.   Tarikat Maulawiah.
                  Tarikat yang didirikan oleh Maulaiv Jalaluddin Ar-Rumi, meninggal dunia di Anatoila, Turki. Dzikirnya disertai tarian mistik dengan cara keadaan tak sadar, agar dapat bersatu dengan Tuhan. Penganut-penganutnya bersifat pengasih dan tidak mengharapkan kepentingan diri sendiri, serta hidup sederhana menjadi teladan bagi orang lain.[18]
4. Tarikat Mu’tabarah Nahdhiyin.
Para kyai pada tanggal 10 Oktober 1957 mendirikan suatu badan federasi bernama Pucuk pimpinan Jam’iyah Ahli Thariqah Mu‘tabarah, sebagai tindak lanjut keputusan muktamar NU (Nahdhatul Ulama) 1957 di Magelang. Belakangan dalam Muktamar NU 1979 di Semarang ditambahkan kata Nahdhiyin, untuk menegaskan bahwa badan ini tetap berafiliasi kepada NU. Sejak berdirinya pimpinan tertinggi badan ini ialah para kyai ternama dari pesantren-pesantren besar. [19]
Dalam anggaran dasarnya dinyatakan bahwa badan ini bertujuan:
a.  Meningkatkan pengamalan syariat Islam di kalangan masyarakat.
b.  Mempertebal kesetiaan masyarakat kepada ajaran-ajaran dari salah satu madzhab yang empat.
c.  Menganjurkan para anggota agar meningkatkan amalan- amalan ibadah dan muamalah, sesuai dengan yang dicontohkan para ulama sholihin.
Pasal 4 menyatakan bahwa badan ini akan tetap setia kepada paham Ahlussunnah wal Jama'ah.[20]
5. Tarikat Naqsyabandiah.
Tarikat ini mula-mula didirikan di Turkestan oleh Bahiruddin Naqsyabandi (sumber lain menyebutkan, Muhammad bin Muhammad Bahauddin Al-Bukhori 1317- 1389 M, bukan Imam Al-Bukhori perowi hadits) dan di Indonesia termasuk tarikat yang paling berpengaruh. Pimpinannya, Sulaiman Effendi, mempunyai markas besar yang terletak di kaki gunung Abu Qubbais di pinggiran kota Mekah. Pengikut-pengikutnya kebanyakan dari Turki dan wilayah-wilayah Hindia Belanda dulu, serta di bekas jajahan Inggris di daerah Melayu. Pada umumnya tarikat ini paling banyak pengikutnya di Jawa sejak abad ke-19 sampai saat ini. Tarikat ini adalah tarikat terbesar di dunia,  juga di Indonesia, dan dianggap paling terawat baik. Ada seleksi untuk jadi pengikutnya. Markasnya di Jawa ada di Jombang, Semarang, Sukabumi, Labuhan Haji (Aceh) di Pesantren Syaikh Waly, Kholidi.[21]
Tarekat Naqsabandiyah mempunyai dampak dan pengaruh sangat besar kepada masyarakat muslim di berbagai wilayah yang berbeda-beda. Tarekat ini pertama kali berdiri di Asia Tengah, kemudian meluas ke Turki, Suriah, Afghanistan, dan India. Dalam perkembangannya, tarekat ini menyebar ke Anatolia (Turki) kemudian meluas ke India dan Indonesia dengan berbagai nama baru yang disesuaikan dengan pendirinya di daerah tersebut, seperti tarekat           Khalidiyah, Muradiyah, Mujadidiyah, dan Ciri menonjol tarekat Naqsa adalah: Pertama, mengikuti syariat secara ketat, keseriusan dalam beribadah yang menyebabkan penolakan terhadap musik dan tari, dan lebih menyukai berdzikir dalam hati. Kedua, upaya yang serius dalam memengaruhi kehidupan dan pemikiran golongan penguasa serta mendekati negara pada agama. Tarekat ini tidak menganut kebijakan isolasi diri dalam menghadapi pemerintahan yang sedang berkuasa saat itu. Sebaliknya, ia melancarkan konfrontasi dengan berbagai kekuatan politik agar mengubah pandangan mereka.[22]
6. Tarekat Qodiriyah.
Asal mulanya di Baghdad, dan dipandang paling tua. Pendirinya ialah Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani (1077- 1166 M). Mula-mula ia seorang ahli bahasa dan ahli fikih dari madzhab Hanbali. Tulisannya pada umumnya berdasarkan ajaran Ahlus Sunnah wal Jama‘ah. Ada sejumlah bukunya yang ditulis oleh murid-muridnya yang menceritakan kesaktiannya. Pelajaran tarikat Qodiriyah tidak jauh berbeda dari pelajaran Islam umum. Hanya saja tarikat ini mementingkan kasih sayang terhadap semua makhluk, rendah hati dan menjauhi fanatisme dalam keagamaan maupun politik. Keistimewaan tarikatnya ialah dzikir dengan menyebut-nyebut nama Tuhan.[23]
Ada anggapan membaca Manaqib Abdul Qodir Al- Jailani pada tanggal 10 malam tiap bulan bisa melepaskan kemiskinan. Karena itu manaqibnya populer, baik di Jawa maupun Sumatera. Kadang kala tarikat ini digabung dengan Naqsyabandiyah menjadi Tarikat Qodiriyah Naqsyabandiyah. Seperti halnya di Suryalaya (Tasikmalaya Jawa Barat, dipimpin Abah Anom, yang sering dikunjungi Harun Nasution, pengubah kurikulum IAIN se-Indonesia, dari manhaj Ahlus Sunnah ke Muktazilah dengan mengandalkan akal dan mengesampingkan wahyu, akibatnya IAIN jadi rusak akidahnya.[24]
Jalur nasab ayahnya Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani sampai pada Sayidina Hasan, sedang ibunnya sampai pada Sayidina Husain. Beliau telah meletakkan dasar-dasar yang kokoh dan prinsip-prinsip yang benar untuk tarekatnya yang agung dalam kitabnya al- Ghaniyah li Thalibi Thariqil-Haq dan kitabnya al fath ar-Rabbani walFaidl al-Rahmani. Di samping itu, beliau juga memerintahkan kepada muridnya untuk berdzikir kepada Allah swt pada malam dan siang hari serta setelah shalat lima waktu, agar dapat wushul kepada-Nya. Tarekat Qadiriyah ini penganutnya tersebar meluas di Mesir, Sudan, Libya, Tunisia, Aljazair, daratan Afrika, dan Indonesia.[25]
Tarekat Faridiyah di Mesir yang dinisbatkan kepada Umar bin Al-Farid (1234 Ml yang kemudian mengilhami tarekat Sanusiyah (Muhammad bin Ali Al-Sanusi, 1787-1859 M) melalui tarekat Idrisiyah (Ahmad bin Idris) di Afrika  Utara merupakan grup Qadiriyah yang masuk ke India melalui Muhammad kemudian dikenal dengan tarekat Al-Ghawthiyah atau Al- Mi’rajiyah dan di Turki dikembangkan oleh Ismail Ar-Rumi 11041 H/1631 M).[26]
Di antara'praktik tarekat Qadi adalah dzikir (terutama melantunkan asma’ Allah berulang-ulang). Dalam pelaksanaannya terdapat berbagai tingkatan penekanan dan intensitas. Ada dzikir yang terdiri atas satu, dua, tiga, dan empat. Dzikir dengan satu gerakan dilaksanakan dengan mengulang-ulang asma' Allah melalui tarikan napas panjang yang kuat, seakan dihela dari tempat yang tinggi, diikuti penekanan dari jantung dan tenggorokan, kemudian dihentikan sehingga napas kembali normal. Hal ini harus diulang secara konsisten untuk waktu yang lama.[27]
7.      Tarikat Qodiriyah Naqsyabandiyah.
     Gabungan ajaran dua tarikat, yaitu Tarikat Qodiriyah dan Tarikat Naqsyabandiyah, Pendirinya Syaikh Khotib Sambas, Tarikat ini merupakan sarang yang sangat penting bagi penyebaran agama Islam di Indonesia dan Malaya dari pusatnya di Mekah antara pertengahan abad ke-19 sampai dengan perempat pertama abad ke-20.[28]
            Menurut Martin van Bruinessen, gabungan dari dua tarekat ini menjadi tarekat baru dan berdiri sendiri, bukan merupakan penggabungan dari dua tarekat berbeda yang diamalkan bersama-sama Tarekit ini didirikan oleh Ahmad Khatib Sambas yang bermukim dan mengajar di Mekah pada pertengahan abad ke-19. Tarekat ini merupakan yang paling berpengaruh dan tersebar secara meluas di Jawa saat ini.[29]
8. Tarikat Rifa'iyah.
           Didirikan oleh Syaikh Ahmad bin ‘Ali Abul Abbas (wafat 578 H /1183 M), Syaikh Ahmad, yang konon guru Syaikh ‘Abdul Qodir Jailani, begitu asyik berdzikir hingga tubuhnya terangkat ke atas, ke angkasa. Tangannya menepuk- nepuk dadanya. Kemudian Allah memerintahkan kepada bidadari untuk memberinya rebana di dadanya, daripada menepuk-nepuk dada.[30]
Tapi Syaikh Ahmad tidak ingat apa-apa begitu khusyuknya, sehingga ia tak mendengar suara rebananya yang nyaring itu. Padahal seluruh dunia mendengar suara rebana itu, Tarikat ini agak fanatik dan anggotanya dapat melakukan hal- hal yang ajaib, misalnya makan pecahan kaca, berjalan di atas api, dan sebagainya. Rifa'iyah, yang memang merinci tarikatnya dengan rebana, di Aceh dulu pernah berkembang besar dan disebut Rapa’i, sudah sulit mencarinya yang asli, yang masih berpegang teguh pada ajaran.[31]
Sayid Ahmad ar-Rifa’i telah meletakkan dasar- dasar yang kuat dan prinsip-prinsip yang kokoh untuk tarekat yang nubarakab, yaitu ajakan untuk beriman dan mengikuti sunnah Rasul Allah, menjaga rukun Islam, berpegang pada keutamaan-keutamaan menjauhi hal-hal yang hina (sifat dan perilaku yang nista).[32]
Tarekat sufi Sunni ini memainkan peranan penting dalam pelembagaan sufisme. Kemungkinan besar, hingga abad ke-15, Rifa’iyah merupakan tarekat-sufi pertama yang paling tersebar luas. Setelah itu, popularitas Rifa'iyah berlanjut di Dunia Arab. Di sana, pada akhir abad ke-19‘dan awal abad ke-20, tarekat ini memiliki jumlah terbesar. Sejak itu, tarekat ini mengalami kemunduran hingga belakangan ini. Meskipun terdapat di tempat-tempat lain, tarekat ini paling signifikan .berada di Turki, Eropa Tenggara, Mesir, Palestina, Suriah, dan Irak, dan sedang muncul di Amerika Serikat.[33]
9.    Tarikat Samaniyah.
            Tarikat yang dikenal di Jawa Barat dan Aceh, didirikan oleh Syaikh Muhammad Saman dari Madinah, Arab Saudi, yang wafat tahun 1702 M. Manaqib (riwayat hidup) Syaikh Saman banyak dibaca orang yang mengharap berkah. Manaqib itu ditulis oleh Syaikh Siddiq Al-Madani, murid beliau. Di situ tertulis, barangsiapa berziarah ke makam Rosulullah tanpa meminta izin kepada Syaikh Saman ziarahnya sia-sia. (Ini contoh kebatilan yang nyata). Juga disebutkan, siapa yang menyeru nama Syaikh tiga kali, hilang kesedihannya. Siapa yang makan makanannya masuk surga. Siapa yang berziarah ke makamnya serta membaca doa-doa untuknya, diampuni dosanya. (Ini benar-benar mengada-ada na'udzubillahi min dalik). Tarikat Saman sekarang menjadi tari Seudati di Aceh, Dzikir Saman mulanya hampir sama dengan dzikir-dzikir yang lain. Namun kemudian berkembang menjadi dzikir yang ekstrim.[34]
     Sammaniyah adalah tarekat yang pertama mendapat pengikut massal di Nusantara. Hal menarik dari tarekat ini yang, menjadi ciri khasnya “adalah corak wahdat al-wuju d yang dianut dan syathahat yang terucap olehnya tidak bertentangan dengan syariat Dalam kitab Manaqib Syaikh Al-Waliy Asy-Syahir sendiri jelas disebutkan bahwa Syekh Samman adalah seorang sufi yang telah menggabungkan antara syariat dan tarekat.[35]
10.    Tarikat Sanusiyah.
     Tarekat yang didirikan oleh Syaikh Muhammad bin 'Ali As-Sanusi, tahun 1837 M, dl Aljazair, meninggal dunia tahun 1957 M. Pusat Tarekat ini di Libia.[36]
Sayyid Muhammad bin ‘Ali As-Sanusi yang biasa dipanggil dengan Sanusi Agung (lahir 22 Desember 1787). Dalam tarekat ini, dzikir bisa dilakukan bersama-sama atau sendirian. Tujuan dzikir itu lebih dimaksudkan untuk melihat Nabi ketimbang melihat Tuhan, sehingga tidak dikenal Keadaan ekstatis sebagaimana yang ada pada tarekit lain. Untuk melihat Nabi, pelantun dzikir harus konsentrasi membayangkan diri Nabi di dalam hatinya sampai ia dapat melihatnya.[37]
11.    Tarikat Siddiqiyah.
     Asal-usul tarikat Ini tidak begitu jelas dan tidak terdapat di negara-negara lain, Muncul dan berkembang di Jombang, Jawa Timur, dimulai oleh keglalan Kyai Mukhtar Mukti yang mendirikan tarikat ini tahun 1953 M.[38]
        Didirikan oleh Kyai Mukhtar Mukti di Losari Plodo (Jombang) pada tahun 1958, Ia dikenal sebagal dukun yang sakti sehingga banyak pengikutnya dari kalangan penderita penyakit kronis, bekas pecandu minuman, dan mereka yang dibebani perasaan bersalah atau frustasi akibat kegagalan di bidang politik dan perdagangan. Di samping itu, banyak juga pengikutnya dari kalangan abangan. Ajaran- ajaran tauhid disajikannya dalam bentuk yang sudah disesuaikan dengan budaya masyarakat Jawa dan amalan-amalan sufi yang diajarkannya terdiri dari ratib-ratib panjang yang diikuti dengan latihan pengaturan napas.[39]

12.    Tarikat Syattariyah.
            Tarikat yang dibangun oleh Syaikh ‘Abdulloh Syattarl di India. Tarlkat Ini di Jawa masih ada, misalnya di sekitar Madiun, Jawa Timur. Dl Aceh dulu mengalami puncaknya di zaman Sultanah (Ratu) Safiatuddin.[40]
            Tarekat ini dikembangkan pertama kali di Indonesia oleh Abdurrauf Singkel di Aceh yang kemudian menyebar ke jawa Barat oleh Abdul Muhyi, salah seorang murid Abdurrauf. Dari Jawa Barat, tarekat ini kemudian menyebar ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tarekat ini tidak mementingkan syariat termasuk kewajiban shalat lima waktu, tetapi mementingkan shalat permanen [shalat da’im]. Barangkali inilah salah satu faktor yang menarik minat kaum abangan di Jawa untuk memasuki tarekat ini di samping untuk memperoleh kesaktian. Adapun dasar tarekat ini adalah martabat tujuh yang sebenarnya tidak begitu erat hubungannya dengan praktik ritualnya.[41]
l3. Tarikat Syaziliyah.
Tarikat yang didirikan oleh ‘All Asy-Syazili, terdapat di Afrika Utara dan Arab, juga Indonesia, walaupun tidak luas tersebarnya dan pengaruhnya relatif kecil. Kehidupan beliau adalah kehidupan seorang syaikh pengernbara di muka bumi, sambil bersungguh-sungguh dengan berdzikir dan berfikir untuk mencapai fana’ (ketiadaan diri di hadapan Allah). Dan beliau mengajarkan pada muridnya sikap zuhud pada dunia dan iqbal  (perasaan hadir di hadapan Allah), Dan juga menganjurkan mereka untuk berdzikir kepada Allah swt di setiap waktu, tempat, dan keadaan serta menempuh jalan Tasawuf. Beliau juga mewasiatkan agar para muridnya membaca kitab Ihya’ Ulurnuddin dan kitab Qutul Qttlub. Tarekat Syadzaliyah ini berkembang dan tersebar di Mesir, Sudan, Libia, Tunisia, al-Jazair, Negeri utara Afrika, dan juga Indonesia.[42]
14.    Tarikat Tijaniyah.
            Tarikat yang didirikan oleh Ahmad At-Tijani. Tarikat ini dengan cepat meluas dl Afrika Barat dan di negara-negara lain, di antaranya Indonesia. Di Afrika tarikat ini telah banyak yang mengislamkan orang-orang Negro. Ahmad At-Tijani ini mengaku dirinya adalah makturn, yang menjadi penengah antara semua anbiya’ (para nabi) dan auliya' (para wali).[43]
Tarekat Tijaniyah ini tersebar luas di Mesir, Kepulauan .Arab, sebagian penjuru Asia, Afrika Hitam, dan di barat Afrika Para pengikut Tarekat ini mempunyai sumbangan yang besar terhadap Islam, karena mereka telah menyebarkan prinsip ke rengah-tengah kaum penyembah berhala di Afrika,dan memasukkan mereka ke dalam Islam, sebagaiman mereka yang juga besar dalam menolak misi para misionaris Nasrani di Afrika.[44]
15.         Tarikat Wahidiyah.
            Tarikat ini didirikan oleh Kyai Majid Ma’ruf di Kedonglo, Kediri (Jawa Timur), 1963. Teoritis tarikat ini terbuka sifatnya, karena orang tidak usah mengucapkan sumpah untuk menjadi anggota, siapa saja yang mengamalkan dzikir salawat wahidiyah sudah dianggap sebagal anggota. Motivasi mendirikan tarikat ini adalah meningkatkan ketaatan orang Islam kepada perintah-perintah agama. Pendirinya menganggap masyarakat Jawa dewasa ini mengalami kekosongan agama dan kejiwaan. Itulah sebabnya ia mengajak masyarakat Islam agar meningkatkan ketakwaannya kepada Tuhan dengan setiap kali mengucapkan dzikir 'Fafirruilalloh', artinya, ‘Larilah kita kembali ke jalan Allah.[45]
            menurut pengakuan pendirinya disusun berdasarkan ilham dari Allah. Shalawat ini dibaca secara bersama-sama yang menyebabkan para pengamalnya menangis meraung-raung dan tak bisa menguasai diri. Tarekat ini mempunyai banyak pengikut di kalangan masyarakat awam Kediri dan menyebar ke seluruh Jawa Timur.[46]
16. Tarekat Yasafiyah dan Khawajagawiyah
Tarekat Yasafiyah didirikan oleh Ahmad Al-Yasafi (w. 562 H/1169 M) dan disusul oleh tarekat Khawajagawiyah yang disponsori oleh Abd Al-Khaliq Al-Ghuzdawani (w. 617 H/1220 M). Kedua tarekat ini menganut paham tasawuf Abu Yazid Al- Bustami (w. 425 H/1034 M) dan dilanjutkan oleh Abu Al- Farmadhi (w. 477 H/1084 M) dan Yusuf bin Ayyub Al-Hamadani (w. 535 H/1140 M). Tarekat Yasafiyah berkembang ke berbagai daerah, antara lain ke Turki. Di sana, tarekat ini berganti nama dengan tarekat Bektashiya yang diidentikkan kepada pendirinya Muhammad ‘Ata’ bin Ibrahim Hajji Bektasy (w. 1335 M). Tarekat ini sangat populer dan pernah memegang peranan penting di Turki yang dikenal dengan Korp Jenissari yang diorganisir oleh Murad I pada masa Turki Utsmani.[47]
2.4 Pengaruh Tarekat dalam Islam
            Dari prospektif sejarah, Tarekat mulai muncul di masyarakat Islam pada awal abad kesebelas, ditandai dengan munculnya Tarekat Qadariyah, yang didirikan oleh Syaikh Abdul Qadir Jailani. Adapun faktor-faktor yang mendorong  terbentuknya Tarekat dalam pengertian sekarang sebagai lembaga baku antara lain adalah:
1.    Pengakuan yanng diberikan kepada tasawuf oleh para ulama, berkat tulisan-tulisan Al-Ghazali.
2.    Hilangnya otoritas kekhalifahan bersama dengan kerancuan dan ketidakpastian yang disebabkan oleh invasi-invasi awal bangsa mongol.
3.    Kalahnya kau muslim oleh kaum non-muslim.[48]
            Sehubungan dengan hal tersebut, dari abad kesebelas dan seterusnya, apa yang sekarang  kita sebut dengan Tarekat-Tarekat besar bermunculan. Tarekat  memiliki peran penting setelah masa ini, misalnya Tarekat bisa menembah dimensi emosional dan spiritual kepada sistem formal ibadah. Tarekat juga mampu menambah keintiman pada kehidupan sosial, misalnya dengan menyediakan pos-pos dan gardu-gardu bantuan pada musafir atau pelencong dan pedagang, dan terkadang berfungsi sebagai lembaga keuangan serta kredit. Karena itu, fungsi mereka berkembang dari membimbing jiwa-jiwa manusia ke tingkat tertinggi dari spiritualitas, hingga memberi petunjuk dan dukungan bagi kebutuhan hidup sosial, politik, ekonomi sehari-hari.[49]

Dalam perkembangannya, tarekat-tarekat itu bukan hanya memusatkan perhatian kepada tasawuf ajaran-ajaran gurunya, tetapi juga mengikuti kegiatan politik. Umpamanya tarekat Tijaniyah yang dikenal dengan gerakan politik yang menentang penjajahan Perancis di Afrika Utara. Sanusiyah menentang penjajahan Itali di Libia. Ahmadiyah menentang orang-orang Salib yang datang ke Mesir. Jadi, sungguh pun mereka memusatkan perhatian kepada akhirat, kalau sudah ada pola dunianya, mereka ikut bergerak menyelamatkan umat Islam dari bahaya yang mengancamnya.[50]
Tarekat memengaruhi dunia Islam mulai dari abad ke-13. Kedudukan tarekat saat itu sama dengan parpol (Partai Politiki) Bahkan, tentara juga menjadi anggota tarekat. Penyokong tarekat Bektashi, umpamanya, adalah tentara Turki. Oleh karena itu, ketika tarekat itu dibubarkan oleh Sultan Mahmud II, tentara Turki yang disebut Jenissari menentangnya. Jadi, tarekat tidak hanya bergerak dalam persoalan agama, tapi juga bergerak dalam persoalan dunia yang mereka pikirkan.[51]
Tarekat-tarekat keagamaan meluaskan pengaruh dan organisasinya ke seluruh pelosok negeri menguasai masyarakat melalui suatu jenjang yang terancang dengan baik dan memberikan otonomi kedaerahan seluas-luasnya.[52]
“ Perkembangan” yang terjadi pada abad ke-18 menyediakan landasan penting bagi peristiwa-peristiwa terkemudian dalam kehidupan Islam umumnya dalam sejarah tarekat-tarekat sufi khususnya adalah Dunia Islam sebagaimana ada pada abad ke-18 dan awal abad ke-19 bukan formulasi abad pertengahan yang agak klasikal yang berjumpa "dengan perluasan dan modernisasi Barat. Dalam perjumpaan-perjumpaan itu, tarekat-tarekat sufi memainkan peran penting, tetapi kadang-kadang tidak memperoleh perhatian sebanyak kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh gerakan-gerakan yang lebih radikal ataupun gerakan-gerakan yang secara lebih eksplisit dibentuk dan dipengaruhi oleh Barat.[53]
Pada abad ke-19 dan ke-20, tradisi-tradisi yang berlainan terlibat dengan berbagai tarti dalam membantu membentuk respons-respons Muslim terhadap barat dan mendefinisikan pula bentuk-bentuk modernitas Islam. Pada saat yang sama, walaupun dalam konteks yang berukah, Banyak tema pokok dalam pengalaman-pengalaman lama tarekat yang tetap berlanjut. Namun, pada abad ke-20, peran tarekat kadang-kadang berbeda Tarekat-tarekat mapan tampak tidak efektif dalam menjawab tantangan tertentu modernitas, namun struktur-struktur dasar atau pendekatan umum masih menyediakan model bagi gerakan revivalis dan reformis Islam baru.[54]
Banyak pengamat berpikir bahwa begitu masyarakat menjadi lebih modem dan terindustrialisasi, fungsi-fungsi sosial guru sufi dan organisasi mereka akan menurun. Pada pertengahan abad ke-20, banyak analisis yang melukiskan gambaran tentang berkurangnya, dan mungkin lenyapnya, tarekat-tarekat sufi. Namun, berlainan dengan oposisi dan prediksi-prediksi itu, tarekat-tarekat sufi justru semakin kuat secara menakjubkan di sebagian besar dunia Islam serta dalam komunitas muslim tempat mereka menjadi minoritas.[55]
Tarekat-tarekat sufi terus menyediakan sarana bagi pengartikulasian identitas Islam inklusif dengan penekanan yang Jelas bahwa transformasi besar era modem tidak menghancurkan basis bagi polaritas ini. Dalam konteks yang berubah pada akhir abad ke-20, tradisi tarekat-tarekat sufi memiliki kekuatan khusus dalam situasi yang mengandung derajat pluralisme keagamaan yang demikian tinggi. Mereka mengizinkan kaum mukmin untuk memelihara identitas pemujaan Islam individual pada saat tidak ada mayoritas muslim dalam lingkup nasional ataupun masyarakat. Tradisi-tradisi ini juga mengizinkan artikulasi Islam dalam bentuk yang sesuai dengan perspektif sekularis. Dengan demikian, sufisme menjadi penting dalam masyarakat nonmuslim di Eropa Barat dan Amerika Utara. Selain itu, karena jelas bahwa tidak mungkin memindahkan salinan institusional dari perhimpunan- perhimpunan merupakan sesuatu yang tidak tampak, yang memberi semangat pada kehidupan komunitas Muslim[56]




                                                           BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan:
Istilah tarekat diambil dari bahasa Arab thariqah yang berarti jalan atau metode. Sedangkan pengertian tarekat secara istilah adalah suatu jalan atau cara untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan mengamalkan ilmu Tauhid, Fikih dan Tasawuf. Ia bisa juga berarti sebuah pengorganisasian dari tasawuf. Adapun tujuan utama pendirian berbagai tarekat oleh para sufi adalah untuk membina dan mengarahkan seseorang agar bisa merasakan hakikat Tuhannya dalam kehidupan sehari-hari melalui perjalanan ibadah yang terarah dan sempurna. Pada awalnya, tarekat itu merupakan bentuk praktik ibadah yang diajarkan secara khusus kepada orang tertentu. Misalnya, Rasulullah mengajarkan wirid atau zikir yang perlu diamalkan oleh Ali ibn Abi Thalib. Kemudian kemunculan tarekat sendiri diawali dengan pengklasifikasian antara syariat, tahriqat, haqiqat, dan makrifat oleh para sufi. Barulah pada abad ke-5 Hijriyah atau 13 Masehi muncul tarekat sebagai kelanjutan dari pemikiran kaum sufi tersebut. Sedangkan kehadiran tarekat di Indonesia sama tuanya dengan kehadiran Islam. Namun hanya ada beberapa tarekat yang bisa masuk dan berkembang di Indonesia. Dalam perkembangannya, tarekat-tarekat terpecah menjadi banyak sesuai guru dan keadaan lingkungan masing-masing. Ada 41 macam tarekat-tarekat yang dianggap sah.
3.2  Saran
Dalam memahami tarekat tidak cukup hanya dengan mempelajari sekilas saja. Karena seluk-beluk tarekat sangatlah rumit dan penuh dengan teka-teki. Sebab ruang lingkup tarekat adalah spiritual yang tidak bisa dipelajari kecuali dengan pengalaman batiniyah tersendiri.






DAFTAR RUJUKAN
Jaiz, Hartono Ahmad. 2006. Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan Maulidan. Solo: Wacana Ilmiah Press.
Solihin dan Anwar Rosihon. 2014. Ilmu Kalam. Bandung: Pustaka Setia.
Tohir, Moenir Nahrowi. 2012. Menjelajahi Ekstensi Tasawuf. Jakarta: PT As-Salam Sejahtera



[1]Jaiz, Hartono Ahmad.  Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:87
[2]Solihin dan Anwar Rosihon.  Ilmu Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia.2014.) hlm:203
[3] Jaiz, Hartono Ahmad.  Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm: 23

[4]Solihin dan Anwar Rosihon.  Ilmu Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia.2014.) hlm:203
[5] Ibid :206
[6] Ibid :206
[7] Ibid :207
[8] Solihin dan Anwar Rosihon.  Ilmu Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia.2014.) hlm:208
[9] Ibid hlm:209
[10]Solihin dan Anwar Rosihon.  Ilmu Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia.2014.) hlm: 210
[11]ibid:211
[12]ibid:205
[13]ibid:206
[14] Solihin dan Anwar Rosihon.  Ilmu Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia.2014.) hlm:206
[15] Jaiz, Hartono Ahmad.  Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:24
[16] Ibid hlm 24
[17]Solihin dan Anwar Rosihon.  Ilmu Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia.2014.) hlm:214
[18] Jaiz, Hartono Ahmad.  Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:24
[19]ibid:25
[20] Ibid:25
[21]i Jaiz, Hartono Ahmad.  Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:25-26
[22]Solihin dan Anwar Rosihon.  Ilmu Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia.2014.) hlm:212-213
[23] Jaiz, Hartono Ahmad.  Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:26-27
[24]Ibid :28
[25]Solihin dan Anwar Rosihon.  Ilmu Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia.2014.) hlm :112
[26] Solihin dan Anwar Rosihon.  Ilmu Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia.2014.) hlm:212
[27] Ibid:212
[28] Jaiz, Hartono Ahmad.  Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:28
[29] Solihin dan Anwar Rosihon.  Ilmu Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia.2014.) hlm:215-216
[30] Jaiz, Hartono Ahmad.  Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:28
[31]i Jaiz, Hartono Ahmad.  Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:28
[32]ibid:110
[33]Solihin dan Anwar Rosihon.  Ilmu Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia.2014.) hlm:215
[34] Jaiz, Hartono Ahmad.  Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:28-2
[35] Solihin dan Anwar Rosihon.  Ilmu Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia.2014.) hlm:216
[36] Ibid :218
[37] Ibid 218
[38] Jaiz, Hartono Ahmad.  Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:29
[39]Solihin dan Anwar Rosihon.  Ilmu Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia.2014.) hlm:219
[40] Jaiz, Hartono Ahmad.  Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:29
[41]Solihin dan Anwar Rosihon.  Ilmu Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia.2014.) hlm: 214-215
[42] ibid:212
[43] Jaiz, Hartono Ahmad.  Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:29
[44] Ibid :113-114
[45] Ibid : 29-30
[46] Solihin dan Anwar Rosihon.  Ilmu Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia.2014.) hlm:219
[47]Solihin dan Anwar Rosihon.  Ilmu Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia.2014.) hlm:100
[48] Jaiz, Hartono Ahmad.  Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm:105
[49] Jaiz, Hartono Ahmad.  Tarekat, Tasawuf, Tahlilan dan Maulidan. (Solo: Wacana Ilmiah Press,2006) hlm :105-106
[50] Solihin dan Anwar Rosihon.  Ilmu Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia.2014.) hlm:223
[51] Ibid :223
[52] Ibid :224
[53] Ibid :224
[54] Solihin dan Anwar Rosihon.  Ilmu Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia.2014.) hlm:224
[55] Ibid :224
[56] Ibid :225

Tidak ada komentar: